Syarah Kitab Riya>d}us} S{a>lihi>n

  • 21 Agu 2020 08:25:53
Image

Syarah Kitab Riya>d}us} S{a>lihi>n

Bab menghadirkan niat dalam setiap perbuatan dan perkataan baik yang terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi.

Alla>h subha>nahu wa ta'a>la berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ البينة: 5

Artinya: "Tidaklah mereka diperintah kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah secara ikhlas dalam (mengamalkan) agama, dan untuk melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, demikianlah agama yang lurus". (QS. Al-Bayyinah: 5).

Ayat ini merupakan dalil wajibnya ikhlas dalam setiap ibadah; karena ikhlas adalah lawan dari syirik yang merupakan dosa paling besar, yang tidak diampuni oleh Alla>h subha>nahu wa ta'a>la apabila seseorang meninggal dalam kondisi musyrik. Alla>h subha>nahu wa ta'a>la berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا النساء: 48

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa-dosa selain syirik bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang berbuat syirik, maka sungguh dia telah melakukan dosa yang sangat besar". (QS. An-Nisa>: 48).

Alla>h subha>nahu wa ta'a>la berfirman:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ الحج: 37

Artinya: "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, akan tetapi ketaqwaan kalianlah (yang akan sampai kepada Allah). (QS. Al-Hajj: 37).

Ayat ini menunjukkan bahwa amalan saja apabila tanpa disertai keikhlasan tidak akan bernilai apa-apa di sisi Alla>h subha>nahu wa ta'a>la; karena yang membuat amalan bernilai di sisiNya adalah keikhlasan orang yang beramal.

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ آل عمران: ٢٩

Artinya: "Katakanlah: Jika kalian menyembunyikan apa yang ada di hati kalian atau menampakkannya, pasti Allah akan mengetahuinya". (QS. Ali 'Imra>n: 29).

Yang dimaksud dengan apa yang tersembunyi di dalam hati adalah niat. Sedangkan apa yang tampak adalah amalan dan ucapan. Ayat ini adalah dalil bahwasannya niat itu berada di dalam hati.

Hadis: 1

وعَنْ أَميرِ الْمُؤْمِنِينَ أبي حفْصٍ عُمرَ بنِ الْخَطَّابِ بْن نُفَيْل بْنِ عَبْد الْعُزَّى بن رياحِ بْن عبدِ اللَّهِ بْن قُرْطِ بْنِ رَزاحِ بْنِ عَدِيِّ بْن كَعْبِ بْن لُؤَيِّ بنِ غالبٍ القُرَشِيِّ العدويِّ. رضي الله عنه، قالَ: سمعْتُ رسُولَ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يقُولُ: "إنَّما الأَعمالُ بالنِّيَّات، وإِنَّمَا لِكُلِّ امرئٍ مَا نَوَى، فمنْ كانَتْ هجْرَتُهُ إِلَى الله ورَسُولِهِ فهجرتُه إلى الله ورسُولِهِ، ومنْ كاَنْت هجْرَتُه لدُنْيَا يُصيبُها، أَو امرَأَةٍ يَنْكحُها فهْجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَر إليْهِ" متَّفَقٌ عَلَى صحَّتِه. رواهُ إِماما المُحَدِّثِين: أَبُو عَبْدِ الله مُحَمَّدُ بنُ إِسْمَاعيل بْن إِبْراهيمَ بْن الْمُغيرة بْن برْدزْبَهْ الْجُعْفِيُّ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُو الحُسَيْنِ مُسْلمُ بْن الْحَجَّاجِ بْنِ مُسلمٍ القُشَيْريُّ النَّيْسَابُوريُّ رَضَيَ اللهُ عَنْهُمَا فِي صَحيحيهِما اللَّذَيْنِ هما أَصَحُّ الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَة.

Artinya: "Diriwayatkan dari Amirul mukminin Abu Hafs Umar bin Khatta>b bin Nufail bin Abdil'uzza> bin Riya>h bin bin Abdilla>h bin Qurth bin Raza>h bin 'Adi< bin Ka'b bin Luay bin Ga>lib Al-Qurasyi Al-'Adawi rad}iyalla>hu 'anhu berkata: Aku mendengar Rasu>lulla>h s}allalla>hu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang yang beramal akan memperoleh (pahala) berdasarkan apa yang ia niatkan. Oleh karena itu, barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka (ia akan mendapat pahala) hijrah karena Allah dan RasulNya. Sedangkan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya untuk apa yang ia inginkan". Hadis ini telah disepakati keshahihannya, dan diriwayatkan oleh 2 imam ahli hadis: Abu Abdilla>h Muhammad bin 'Isma'i<l bin Ibrahi<m bin Mugi<rah bin Bardizbah Al-Ju'fi Al-Bukhari, dan Abu Husain Muslim bin Hajja>j bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisa>bu>ri rad}iyalla>hu 'anhuma di dalam kedua kitab mereka yang merupakan 2 kitab yang paling kredibel (setelah Al-Quran).

Rawi hadis ini adalah Umar bin Khatta>b Al-Faru>q rad}iyalla>hu 'anhu, khalifah yang kedua setelah Abu Bakr As}-S{iddi<q rad}iyalla>hu 'anhu, salah satu sahabat yang dijamin masuk surga. Nasab beliau bertemu dengan Rasu>lulla>h s}allalla>hu 'alaihi wa sallam pada Ka'b bin Luay; karena beliau adalah Muhammad bin Abdilla>h bin Abdilmuttalib bin Ha>syim bin Abdimanaf bin Qus}ai bin Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Luay.

Makna: "Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya", adalah sah tidaknya amalan, berpahala atau tidaknya tergantung dari apa yang diniatkan pelakunya.

Perbuatan manusia dapat dibagi menjadi 2 macam: 'a>dah (sebuah kebiasaan) dan ibadah.

  • 'A<dah mencakup semua amalan selain ibadah, seperti: makan, minum, duduk, berdiri, dan sebagainya. 'A<dah bisa dilakukan meskipun tanpa niat, namun apabila seseorang berniat karena Alla>h subha>nahu wa ta'a>la maka 'a>dah ini akan bernilai ibadah. Misalnya: orang yang tidur setelah Isya> dengan niat supaya dia bisa bangun pada malam hari untuk shalat malam, maka tidurnya bernilai ibadah.
  • Ibadah, setiap ibadah wajib adanya niat; karena niat adalah rukun pada setiap ibadah, kalau tidak ada niat maka ibadahnya menjadi tidak sah. Demikian juga ikhlas, wajib ada dalam setiap ibadah; karena kalau tidak ikhlas berarti riya' atau bahkan syirik.

Niat yang wajib ada dalam setiap ibadah ada 2:

  • Niat ibadah itu sendiri, sebagai contoh: kalau ibadahnya adalah shalat Magrib, maka niat ibadah meliputi 3 hal: niat melakukan shalat, niat bahwasannya ini adalah shalat fardhu, dan niat bahwasannya ini adalah shalat Maghrib. Jika ibadahnya adalah shalat sunah Witir, maka niat ibadah meliputi 2 hal: niat melakukan shalat, dan niat bahwasannya ini adalah shalat Witir. Jika ibadahnya adalah shalat sunah mutlaq, maka niat ibadah meliputi 1 hal saja yaitu: niat melakukan shalat.
  • Niat karena Alla>h subha>nahu wa ta'a>la, yang dinamakan dengan ikhlas; karena tanpa ikhlas ibadah tidak akan diterima. Di dalam hadis qudsi Alla>h subha>nahu wa ta'a>la berfirman:

«أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ»

Artinya: "Aku tidak butuh terhadap sekutu-sekutu (yang dijadikan oleh orang-orang musyrik) ketika mereka berbuat syirik, maka barangsiapa yang beramal lalu dia menyekutukanKu dengan sesuatu yang lain, Aku akan meninggalkannya dan kesyirikannya". (HR. Muslim: 2985).

Hijrah secara bahasa adalah meninggalkan satu tempat ke tempat yang lain. Secara syar'i hijrah meliputi 3 hal:

  • Meninggalkan negeri kafir ke negeri Islam.
  • Meninggalkan maksiat dengan cara bertaubat.
  • Meninggalkan pelaku maksiat.

Namun ketika kata "hijrah" disebutkan secara mutlak maka yang dimaksud adalah makna yang pertama.

Pertama: Hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam hukumnya wajib, dalilnya adalah firman Alla>h subha>nahu wa ta'a>la :

ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗﮘ ﮙ ﮚ ﮛﮜ ﮝ ﮞ ﮟ النساء: ٩٧

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam kondisi menzhalimi diri mereka sendiri, malaikat bertanya: "Bagaimana kalian ini?" Mereka menjawab: "Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi (Mekkah)". Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah luas sehingga kalian bisa berhijrah di bumi itu?" Maka tempat kembali mereka adalah neraka Jahannam dan itu adalah seburuk-buruk termpat kembali". (QS. An-Nisa>: 97).

Di dalam ayat ini Alla>h subha>nahu wa ta'a>la menyebut orang yang tidak mau berhijrah sebagai orang yang menzhalimi dirinya sendiri, dan mengancamnya dengan neraka Jahannam.

Hijrah dari negeri kafir wajib hukumnya apabila kaum muslimin di sana tidak bisa menjalankan agama Allah dan menampakkan syiar-syiar Islam. Namun apabila masih bisa menjalankan agama Allah dan masih bisa menampakkan syiar-syiar Islam di negeri kafir, maka hukum hijrah adalah sunah.

Masalah: Bagaimana hukum bepergian ke negeri kafir?

Pada asalnya bepergian ke negeri kafir adalah haram; karena banyaknya kerusakan yang akan ditimbulkan olehnya, baik kerusakan akhlaq, ibadah dan yang paling berbahaya adalah kerusakan aqidah. Oleh karena itu, haram hukumnya bepergian ke negeri kafir kecuali jika terpenuhi 3 syarat di bawah ini:

  • Memiliki ilmu agama yang bisa menjaganya dari fitnah syubhat.
  • Memiliki wara' yang bisa menjaganya dari fitnah syahwat.
  • Adanya keperluan, seperti: berobat, bekerja dan belajar, apabila hal-hal tersebut tidak bisa didapatkan dari negeri Islam. Termasuk kebutuhan adalah berdakwah kepada orang-orang kafir.

Kedua: Hijrah dari maksiat dengan cara bertaubat, seperti: hijrah dari riba, pacaran, merokok, bermain musik dan mendengarkan musik, maka hukumnya wajib. Dalilnya adalah sabda Rasu>lulla>h s}allalla>hu 'alaihi wa sallam :

«المهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

Artinya: "Orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah". (HR. Bukhari: 10).

Ketiga: Hijrah dari pelaku maksiat (biasa disebut dengan hajr). Hukumnya wajib apabila dengan hajr pelaku maksiat bisa sadar dan bertaubat, atau supaya kita tidak terpengaruh dengan para pelaku maksiat. Dalilnya adalah perbuatan Rasu>lulla>h s}allalla>hu 'alaihi wa sallam ketika menhajr 3 orang sahabat yang tidak ikut perang Tabuk.

Namun apabila dengan hajr pelaku maksiat tidak bertaubat bahkan malah jauh dari Islam, maka sunahnya dalam kondisi seperti ini adalah mukha>lat}ah, yaitu bergaul dengan mereka dalam rangka dakwah dan supaya mereka tidak semakin jauh dari Islam.

Kategori : Dzikir