Jadilah Manusia Bermakna

  • 06 Jul 2020 11:33:40
Image

Penulis: Ustadz Dr. Irfan Yuhadi, M.S.I
MUQADDIMAH
Kandungan Surat At-Tin Menjelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah ﷻ dalam bentuk yang baik-baiknya. Maka hendaknya seorang manusia bersyukur atas nikmat Allah ﷻ tersebut dengan menggunakan kesempurnaan fisiknya untuk beriman dan mengiringi keimanannya dengan amal shalih. Karena ketika seorang ingkar terhadap nikmat tersebut, maka ia akan dikembalikan ke Neraka yang paling rendah pada Hari Kiamat kelak –wal’iyadzubillah.- Berikut ini akan dibahas beberapa pelajaran berharga dari tafsir Surat At-Tin yang mulia. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran darinya.
FAIDAH YANG TERAMBIL DARI TAFSIR SURAT AT-TIN (Surat Ke-95 : 8 Ayat - Makkiyyah, diturunkan sesudah Surat Al-Buruj)
A. Allah ﷻ Mengawali Firman-Nya dengan Tiga Kali Sumpah
Tidaklah Allah ﷻ bersumpah dengan sesuatu, kecuali sesuatu tersebut merupakan perkara yang besar, baik karena dzatnya itu sendiri maupun karena ia merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah ﷻ. (Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, 42.) Allah ﷻ berfirman;
وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِ وَطُوْرِ سِيْنِيْنَ وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِيْنِ
”Demi (buah) tin dan (buah) zaitun. Demi bukit Sinai. Dan demi kota (Makkah) ini yang aman.” (QS. At-Tin : 1 - 3)
Allah ﷻ bersumpah dengan buah tin dan buah zaitun, karena buah tin merupakan buah yang bersih dari bahan-bahan yang sulit dicerna tubuh dan banyak mengandung nutrisi, sedangkan buah zaitun merupakan buah yang dapat dibuat minyak dan banyak digunakan sebagai bahan obat-obatan. Penyebutan kedua buah ini merupakan kinayah tentang Baitul Maqdis (Palestina) yang terkenal dengan tumbuhan tin dan zaitun, (Zubdatut Tafsir, 813) tempat kenabian Nabi Isa bin Maryam عليها السلام (Taisirul Karimir Rahman, 929) yang merupakan Nabi terakhir dari kalangan Bani Israil. (Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, 256)
Allah ﷻ bersumpah dengan bukit Sinai, yang disana Allah ﷻ pernah berbicara langsung kepada Nabi Musa عليه السلام. (Zubdatut Tafsir, 813) Allah ﷻ bersumpah pula dengan kota Makkah ini yang barangsiapa memasukinya, maka ia akan aman. (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/526) Makkah Al-Mukarramah merupakan tempat diangkatnya Nabi Muhammad ﷺ sebagai seorang Nabi. (Taisirul Karimir Rahman, 929) Allah ﷻ bersumpah dengan ketiga tempat di atas, karena ketiganya merupakan tempat turunnya wahyu kepada para Rasul Ulul ’Azmi, dan dari ketiganya terpancar hidayah untuk umat manusia. (Zubdatut Tafsir, 813)
B. Manusia diciptakan dalam Sebaik-baik Bentuk
Allah ﷻ bersumpah dengan tiga kali sumpahnya untuk menyampaikan bahwa :
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ
”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin : 4)
Allah ﷻ telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna dengan anggota badan yang serasi. (Taisirul Karimir Rahman, 929) Allah ﷻ menciptakan manusia dengan kemampuan dapat menerima ilmu, dapat berbicara, dapat mengatur, dan memiliki sifat bijaksana. (Zubdatut Tafsir, 813) Dan Allah ﷻ juga membekali manusia dengan tiga perangkat penting, yaitu :
وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ
“Dan Dia memberi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati.” (QS. AN-Nahl : 78)
Pendengaran, penglihatan, dan hati merupakan perangkat untuk menerima pengetahuan. Pengetahuan yang akan masuk kepada manusia, maka akan melalui salah satu dari tiga anggota tersebut. Berkata Syaikh ’Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di رحمه الله;
خَصَّ هَذَهِ الْأَعْضَاءُ الثَّلَاثَةُ، لِشَرَفِهَا وَفَضْلِهَا وَلِأَنَّهَا مِفْتَاحُ لِكُلِّ عِلْمٍ، فَلَا وَصَلَ لِلْعَبْدِ عِلْمٌ إِلَّا مِنْ أَحَدٍ هَذِهِ الْأَبْوَابُ الثَّلَاثَةُ.
“Mengistimewakan (penyebutan) ketiga anggota tubuh (tersebut), untuk memuliakan dan mengutamakannya. Karena (ketiga)nya merupakan kunci (masuknya) setiap ilmu. Maka suatu ilmu tidak akan sampai pada seorang hamba, kecuali melalui salah satu dari ketiga pintu tersebut.” (Taisirul Karimir Rahman, 2/267)
Hendaknya ketiga perangkat tersebut digunakan dalam hal-hal kebaikan. Berkata Imam Al-Qurthubi رحمه الله;
وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ لِتَسْمَعُوْا بِهِ الْأَمْرُ وَالنَّهْيُ، وَالْأَبْصَارَ لِتُبْصِرُوْا بِهَا آثَارُ صَنْعِهِ، وَالْأَفْئِدَةَ لِتَصُلُوْا بِهَا إِلَى مَعْرِفَتِهِ.
“Dan diberikannya kalian pendengaran untuk mendengarkan perintah dan larangan(-Nya). Penglihatan untuk melihat tanda-tanda ciptaan-Nya. Dan hati dipergunakan untuk sampai pada makrifat kepada-Nya.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 10/65)
Dengan kesempurnaan fisik dan ilmu yang dimiliki oleh manusia hendaknya mereka menjadi manusia yang bermakna di muka bumi ini. Disibukkan hari-harinya dengan hal-hal yang positif dan prodktif, baik dalam perkara dunia maupun perkara akhirat. Allah ﷻ berfirman;
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ
”Apabila engkau telah menyelesaikan (sesuatu urusan), maka kerjakanlah (urusan yang lain).”
Apabila engkau telah menyelesaikan sesuatu amalan, maka bangkitlah untuk mengerjakan amalan yang lainnya. Jika engkau telah selesai dari pekerjaan dunia, maka kerjakanlah amalan akhirat. Jika engkau telah selesai dari amalan akhirat, maka sibukkanlah dengan pekerjaan dunia. (Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, 254) Sehingga seorang muslim merupakan orang yang produktif baik dalam urusan dunia maupun ururan akhirat. Sedangkan orang yang banyak santai dan pengangguran, maka ia adalah orang yang tercela. Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه;
إِنِّيْ لَأَبْغُضُ الرَّجُلَ أَنْ أَرَاهُ فَارِغًا لَيْسَ فِيْ شَيْءٍ مِنْ عَمَلِ الدُّنْيَا وَلَا فِيْ عَمَلِ الْآخِرَةِ
“Sesungguhnya aku sangat benci melihat orang yang pengangguran, (ia) tidak bekerja untuk dunia(nya) dan tidak pula beramal untuk akhirat(nya).” (Shifatush Shafwah, 1/414)
C. Manusia yang Kufur Akan dikembalikan Ke Neraka
Allah ﷻ berfirman;
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِيْنَ
”Kemudian Kami kembalikan ia (ke tempat) yang serendah-rendahnya.” (QS. At-Tin : 5)
Kemudian Kami kembalikan ia ke Neraka yang serendah-rendahnya, jika ia tidak taat kepada Allah ﷻ dan tidak mengikuti para Rasul. (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/527) Di antara gambaran siksaan di Neraka –wal’iyadzubillah- adalah :
لَا يَذُوْقُوْنَ فِيْهَا بَرْدًا وَّلَا شَرَابًا إِلَّا حَمِيْمًا وَّغَسَّاقًا
”Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapatkan) minuman. Selain air yang mendidih dan nanah.” (QS. An-Naba’ : 24 - 25)
Di dalam Neraka Jahannam mereka tidak mendapatkan sesuatu yang menyejukkan hati mereka, dan tidak pula mendapatkan minuman yang baik untuk mengisi perut mereka. (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/464) Hamim adalah air panas mendidih yang berada pada puncak kepanasannya, (Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, 30) Ghassaq adalah campuran dari nanah, keringat, air mata, serta sesuatu yang keluar dari luka-luka para penghuni Neraka yang dinginnya tidak terperikan dan bau busuknya tidak tertahankan. (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/464) Lalu dikatakan kepada mereka;
فَذُوْقُوْا فَلَنْ نَزِيْدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا
”Karena itu rasakanlah, dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian kecuali (tambahan) adzab.”
Berkata ‘Abdullah bin ‘Amru رضي الله عنهما;
لَمْ يَنْزِلْ عَلَى أَهْلِ النَّارِ آيَةً أَشَدُّ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ (فَذُوْقُوْا فَلَنْ نَزِيْدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا) قَالَ فَهُمْ فِيْ مَزِيْدٍ مِنَ الْعَذَابِ أَبَدًا.
“Belum pernah diturunkan kepada para penghuni Neraka satu ayat pun yang lebih keras dari pada ayat, ”Karena itu rasakanlah, dan Kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kalian kecuali (tambahan) adzab,” bahwa mereka senantiasa mendapatkan tambahan adzab selama-lamanya.” (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/464)
Mereka akan tinggal di dalam Neraka selama-lamanya. Allah ﷻ berfirman;
لَابِثِيْنَ فِيْهَا أَحْقَابًا
”Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya.” (QS. An-Naba’ : 23)
Mereka tinggal di dalam Neraka sepanjang zaman (Zubdatut Tafsir, 787) yang tidak ada habis-habisnya, setiap kali habis satu abad datang lagi abad selanjutnya. (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/464) Berkata ‘Abdullah (bin Mas’ud) رضي الله عنه;
لَوْ عَلِمَ أَهْلُ النَّارِ أَنَّهُمْ يَلْبَثُوْنَ فِي النَّارِ عَدَدَ حَصَى الدُّنْيَا لَفَرِحُوْا، وَلَوْ عَلِمَ أَهْلُ الْجَنَّةِ أَنَّهُمْ يَلْبَثُوْنَ فِي الْجَنَّةِ عَدَدَ حَصَى الدُّنْيَا لَحَزِنُوْا.
“Seandainya penghuni Neraka mengetahui bahwa sesungguhnya mereka akan tinggal di dalam Neraka (selama) banyaknya kerikil di dunia, niscaya sungguh mereka akan bergembira. Dan seandainya penghuni Surga mengetahui bahwa sesungguhnya mereka akan tinggal di dalam Surga (selama) banyaknya kerikil di dunia, niscaya sungguh mereka akan bersedih.” (Tafsirul Baghawi, 4/540)
D. Beruntunglah Orang-orang yang beriman dan Beramal Shalih
Allah ﷻ berfirman;
إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ
”Kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal shalih, maka bagi mereka pahala yang tidak terputus.” (QS. At-Tin : 6)
Orang-orang yang beriman dan melakukan amal shalih, maka mereka tidak dikembalikan ke Neraka yang serendah-rendahnya, namun mereka dikembalikan ke Surga yang luas dan tinggi (Zubdatut Tafsir, 813) serta mereka mendapatkan pahala yang tidak ada habisnya, (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/527) karena mereka istiqamah di atas iman dan amal shalih hingga mereka meninggal dunia. (Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, 257)
Iman meliputi setiap hal yang mendekatkan diri kepada Allah ﷻ berupa keyakinan yang benar dan Ilmu yang bermanfaat. Sedangkan amal shalih meliputi setiap perkataan dan perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah ﷻ yang dilandasi dengan keikhlasan kerena Allah ﷻ dan mengikuti petunjuk Rasulullah Muhammad ﷺ. (Syarhu Tsalatsatil Ushul, 13) Berkata Fudhail bin ‘Iyadh (Fudhail bin Iyadh 5 adalah seorang tabi’ut tabi’in yang wafat di Makkah tahun 187 H) رحمه الله berkata;
إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ وَ إِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُوْنَ خَالِصًا وَ صَوَابًا وَالْخَالِصُ أَنْ يَكُوْنَ لِلَّهِ وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى السُّنَّةِ.
”Sesungguhnya suatu amalan jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka ia tidak akan diterima (oleh Allah ﷻ). Jika amalan tersebut benar tetapi tidak ikhlas, maka juga tidak akan diterima (oleh Allah ﷻ). Hingga amalan tersebut ikhlas dan benar. Ikhlas adalah karena Allah ﷻ dan benar adalah menurut Sunnah Rasulullah ﷺ. (Iqtidha’ Ash-Shiratim Mustaqim, 451)
E. Celakalah Orang-orang yang Mendustakan Hari Pembalasan
Allah ﷻ berfirman;
فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّيْنِ
”Maka apakah yang menyebabkanmu mendustakan (Hari) Pembalasan sesudah (adanya penjelasan) itu?” (QS. At-Tin : 7)
Apakah yang menyebabkanmu, wahai manusia mendustakan Hari Kebangkitan dan pemberian balasan (Zubdatut Tafsir, 813) sesudah adanya penjelasan tersebut. (Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, 258) Pada hari itu manusia akan mendapatkan balasan dari amalannya ketika di dunia. Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله
;
يَوْمُ الدِّيْنِ يَوْمُ الْحِسَابِ لِلْخَلَائِقِ وَهُوَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَدِيْنَهُمْ بِأَعْمَالِهِمْ إِنْ خَيْرًا فَخَيْرٌ وَإِنْ شَرًّا فَشَرٌّ إِلَّا مَنْ عَفَا عَنْهُ
“Hari Pembalasan adalah hari perhitungan bagi para makhluk. Hari itu merupakan Hari Kiamat yang para makhluk akan dibalasan (sesuai) dengan amalan mereka. Jika amalannya (ketika di dunia) baik, maka baik pula (balasan yang akan diterimanya). (Namun) jika amalannya (ketika di dunia) buruk, maka buruk pula (balasan yang akan diterimanya). Kecuali bagi siapa saja yang dimaafkan (oleh Allah رحمه الله
).” (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 1/24)
Orang-orang yang tidak takut terhadap Hari Kebangkitan, maka peringatan ayat-ayat Allah ﷻ tidak bermanfaat baginya. Allah ﷻ berfirman;
إِنَّمَآ أَنْتَ مُنْذِرُ مَنْ يَّخْشَاهَا
”Sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan bagi orang-orang yang takut terhadap (Hari Kebangkitan).”
Sesungguhnya Allah ﷻ mengutus engkau, wahai Muhammad ﷺ hanyalah agar engkau pemberi peringatan (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/469) bagi orang-orang yang takut terhadap Hari Kebangkitan. Adapun bagi orang-orang yang mengingkari dan mendustakan Hari Kebangkitan, maka peringatan tidak bermanfaat bagi mereka. (Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, 57)
F. Allah ﷻ tidak Akan Menzhalimi Hamba-Nya
Allah ﷻ berfirman;
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِيْنَ
”Bukankah Allah adalah hakim yang seadil-adilnya?” (QS. At-Tin : 8)
Bukankah Allah ﷻ adalah hakim yang seadil-adilnya, yang tidak akan menzhalimi seorang pun. (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/527) Pada Hari Kiamat para hamba waktu itu mengetahui kesempurnaan keadilan Allah ﷻ. (Taisirul Karimir Rahman, 912) Bahkan akan ditegakkan pula qishash antara kambing yang bertanduk dengan kambing yang tidak bertanduk. (HR. Muslim Juz 4 : 2582)
*****
MARAJI’
1.Al-Qur’anul Karim.
2.Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi.
3.Tafsirul Baghawi: Mu’alimut Tanzil, Abu Muhammad Husain bin Mas’ud Al-Baghawi.
4.Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, Abul Fida’ Ismail bin Amr bin Katsir Ad-Dimasyqi.
5.Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
6.Taisirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
7.Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir, Muhammad Sulaiman ‘Abdullah Al-Asyqar.

Kategori : Mutiara Nasihat