KEWAJIBAN SUAMI DAN ISTERI

  • 23 Jun 2020 08:30:45
Image

Penulis: Ustadz Dr. Irfan Yuhadi, M.S.I

Allah ﷻ menciptakan manusia berpasang-pasangan, sebagaimana firman-Nya;

وَخَلَقْنَاكُمْ أَزْوَاجًا

Kami jadikan kalian berpasang-pasangan. (QS. An-Naba’ : 8)

Cara untuk menyatukan seorang manusia dengan pasangannya adalah dengan ikatan pernikahan. Pernikahan merupakan Sunnah para Rasul. Sebagaimana firman Allah ﷻ;

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelummu, dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (QS. Ar-Ra’d : 38)

Ikhwati fillah rahimani wa rahimakumullah ......

Untuk mendapatkan kebahagiaan di dalam pernikahan, maka masing-masing suami dan isteri haruslah menjalankan tugas dan kewajibannya. Di antara kewajiban Suami setelah pernikahan adalah:

1. Memberikan makanan, pakaian, dan kebutuhan isterinya sesuai dengan kemampuannya

Sebagaimana diriwayatkan dari Hakim bin Mu’awiyah Al-Qusyairi, dari bapaknya رضي الله عنه, ia berkata;

يَارَسُوْلَ اللَّهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ : أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوْهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ

“Wahai Rasulullah apakah hak isteri salah seorang dari kami atas (suami)nya?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Engkau memberi makan ketika engkau makan dan engkau memberikan pakaian ketika engkau berpakaian.” (HR. Abu Dawud : 2142, lafazh ini miliknya dan Ibnu Majah : 1850. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani 5 dalam Shahihul Jami’ : 3149)

2. Mengajarkan kepada isterinya masalah agama dan memotivasinya agar melakukan ketaatan

Allah ﷻ berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api Neraka.” (QS. At-Tahrim : 6)

‘Ali رضي الله عنه ketika menafsirkan ayat ini, ia mengatakan;

أَدِّبُوْهُمْ وَعَلِّمُوْهُمْ

“Ajarkanlah adab kepada mereka dan ajarkanlah (ilmu agama) kepada mereka.” (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/391)

Sedangkan di antara kewajiban Isteri setelah pernikahan adalah :

1. Berupaya untuk menyenangkan dan mentaati suaminya

Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata;

قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ اَلَّتِيْ تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيْ نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ.

“Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ, “Siapakah isteri yang baik itu?” Beliau menjawab, “Yaitu yang menyenangkan (suami)nya ketika ia memandang(nya), mentaatinya ketika ia memerintahkan(nya), dan ia tidak menyalahi (suami)nya pada diri dan hartanya, (yang suaminya) tidak menyukainya.” (Ahmad dan Nasa’i Juz 6 : 3231. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله

dalam Irwa’ul Ghalil : 1786)

2. Berupaya untuk memiliki sifat penyayang dan senantiasa mencari keridhaan suaminya

Rasulullah ﷺ bersabda;

نِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ الْعَؤُوْدَ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِيْ إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِيْ يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ لَا أَذُقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى

“Isteri-isteri kalian yang termasuk penghuni Surga adalah yang penuh kasih sayang, yang subur, dan yang segera kembali kepada suaminya. Jika (suaminya) marah, ia (segera) datang (kepada suaminya) hingga ia meletakkan tangannya di tangan suaminya, dan ia berkata, “Aku tidak akan tidur sampai engkau ridha (kepadaku).” (HR. Daraquthni. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله

dalam As-Silsilah Ash-Shahihah Juz 1 : 287)

Akhirnya kita memohon kepada Allah ﷻ, agar Allah ﷻ memberikan kebahagiaan di dalam rumah tangga kita.

Kategori : Mutiara Nasihat