MERAIH KEUTAMAAN RAMADHAN

  • 07 Apr 2020 10:20:32
Image

Penulis: Ustadz Dr. Irfan Yuhadi, M.S.I
Kita bersyukur kepada Allah ﷻ karena sebentar lagi –insya Allah- kita akan dipertemukan oleh Allah ﷻ dengan bulan Ramadhan yang mulia. Sebuah bulan yang menjadikan para setan dibelenggu dan semua pintu Neraka ditutup, sehingga menjadikan seorang mukmin lebih mudah dalam meninggalkan kemaksiatan. Di bulan tersebut delapan pintu Surga dibuka semuanya, sehingga menjadikan seorang mukmin lebih mudah untuk melakukan kataatan. Bahkan di setiap malam bulan Ramadhan Allah ﷻ mengampuni dan membebaskan para hamba-Nya dari Neraka. Karena demikian besar keutaamaan bulan Ramadhan, maka kedatangan bulan tersebut senantiasa dinatikan oleh orang-orang beriman yang mengharapkan kebaikan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda;
إِذَا كَانَتْ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ صُفِدَتِ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ. وَنَادَى مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ.
“Jika telah (memasuki) malam pertama dari (bulan) Ramadhan, (maka) dibelenggulah para setan dan para petinggi jin, ditutup pintu-pintu Neraka dan tidak ada satu pintu pun yang dibuka, dibuka pintu-pintu Surga dan tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Pemanggil pun memanggil, “Wahai pencari kebaikan menghadaplah, wahai pencari keburukan tahanlah.” Allah ﷻ (memiliki para hamba) yang dibebaskan dari Neraka, yang demikian itu (terjadi) di setiap malam (Ramadhan).” (HR. Tirmidzi Juz 3 : 682, Nasa’i Juz 4 : 2107, Ibnu Majah : 1642, lafazh ini miliknya, Baihaqi Juz 4 : 8284, Ibnu Khuzaimah Juz 3 : 1883 dan Hakim Juz 1 : 1532. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih Ibni Majah Juz 5 : 1331)
Untuk bisa meraih keutamaan bulan Ramadhan, maka kita perlu membuat perencanaan yang matang. Sehingga berjalannya waktu, hari demi hari di bulan Ramadhan yang mulia dapat kita isi dengan berbagai amalan yang utama. Perencanaan tersebut dibagi dalam empat fase, yaitu: (a) fase persiapan menyambut Ramadhan, (b) fase awal hingga pertengahan Ramadhan, (c) fase akhir Ramadhan, dan (d) fase selepas Ramadhan. Berikut ini uraiannya.
A. FASE PERSIAPAN MENYAMBUT RAMADHAN
Sebagai bentuk persiapan dalam menyambut Ramadhan yang perlu dilakukan adalah :
1. Kuatkan Ilmu Tentang Ramadhan
Untuk bisa meraih keutamaan di bulan Ramadhan, maka seorang mukmin harus mengetahui ilmunya. Karena ilmu merupakan sarana untuk meraih keutamaan. Sebagaimana perkataan Rabi رحمه الله;
اَلْعِلْمُ وَسِيْلَةٌ إِلَى كُلِّ فَضِيْلَةٍ.
“Ilmu merupakan sarana untuk mendapatkan setiap keutamaan.” (Tahdzib Siyar A’lamin Nubala’, 4/523)
Seorang mukmin harus melihat bagaimana Rasulullah ﷺ di bulan Ramadhan, apa saja Sunnah-sunnah Rasulullah ﷺ di dalam bulan Ramadhan. Karena sebuah ibadah tidak akan diterima oleh Allah ﷻ, kecuali yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Tidak ada jalan bagi seorang hamba untuk bisa mendekatkan diri kepada Rabb-nya, kecuali dengan cara mengikuti syari’at Rasulullah ﷺ yang mulia. Sungguh indah apa yang dikatakan oleh Junaid bin Muhammad رحمه الله;
اَلطَّرِيْقُ إِلَى اللَّهِ مَسْدُوْدٌ عَلَى خَلْقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا عَلَى الْمُقْتَفِيْنَ آثَارَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِيْنَ لِسُنَّتِهِ كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ}.
“Jalan menuju Allah ﷻ tertutup bagi para makhluk Allah ﷻ, kecuali orang-orang yang mengikuti atsar-atsar Rasulullah ﷺ dan mengikuti Sunnahnya. Sebagaimana firman Allah ﷻ, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (QS. Al-Ahzab : 21).” (Shifatush Shafwah, 2/418)
Oleh karena itu seorang mukmin perlu kembali memuraja’ah fiqih Ramadhan yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah ﷺ.
2. Bertaubat Kepada Allah ﷻ
Karena seorang hamba tidak akan mampu untuk mengoptimalkan ibadah ketika hatinya masih telilit dengan jeratan maksiat. Dampak dari kemaksiatan akan menjadikan seorang berat untuk melakukan ketaatan. Bukan karena tidak mampu, namun dosa yang telah melilit hati sehingga hati terbelenggu dan tidak bisa mendorong anggota badan untuk melakukan ketaatan. Allah ﷻ berfirman;
كَلَّا بَلْسرَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ.
”Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan merupakan dosa yang menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifin : 14)
Rasulullah ﷺ telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan ”ran” dalam ayat tersebut. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءً فِيْ قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِيْ ذَكَرَهُ اللَّهُ فِيْ كِتَابِهِ (كَلَّا بَلْسرَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَاكَانُوْا يَكْسِبُوْنَ).
“Sesungguhnya seorang mukmin apabila melakukan dosa, (maka) akan ada noktah hitam pada hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti (dari berbuat dosa), dan memohon ampun (kepada Allah ﷻ), (maka) hatinya (kembali bersih) berkilau. Jika ia menambah (dosa), (maka akan) bertambah pula (noktah hitamnya). Demikianlah “ar-ran” yang disebutkan Allah ﷻ dalam Kitab-Nya, ”Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan merupakan dosa yang menutupi hati mereka.” (HR. Hakim Juz 1 : 6, Tirmidzi Juz 5 : 3334, dan Ibnu Majah : 4244, lafazh ini miliknya. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih Ibni Majah Juz 10 : 3422)
Hati orang-orang yang beriman senantiasa khawatir terhadap dosa yang pernah ia lakukan. Mereka khawatir bahwa dosa tersebut nantinya akan menjadikan mereka binasa. Inilah perbedaan antara mukmin yang hakiki dengan pelaku maksiat yang sejati. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه; (Beliau adalah seorang Sahabat yang wafat tahun 32 H di Madinah)
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا
“Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia (sedang) duduk di bawah gunung, ia takut jika gunung tersebut akan menimpanya. Adapun orang yang fajir melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya. Lalu ia (menepiskan tangannya dan) berkata, “(Cukup) begini saja.” (HR. Bukhari Juz 5 : 5949)
Oleh karena itu Allah ﷻ memanggil orang-orang beriman yang pernah terperosok dalam kubangan dosa dan kemaksiatan agar mereka kembali bertaubat kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman;
وَتُوْبُوآ إِلَى اللَّهِ جَمِيْعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.
“Bertaubatlah kalian semuanya kepada Allah ﷻ wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (QS. An-Nur : 31)
Untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, hendaknya seorang mukmin mensucikan jiwanya dari berbagai dosa dengan cara bertaubat kepada Allah ﷻ. Orang-orang yang mensucikan jiwanya, niscaya akan mendapatkan keberuntungan. Allah ﷻ berfirman;
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا.
“Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan (jiwa)nya (dari berbagai dosa dan kesalahan)(Taisirul Karimir Rahman, 941). Sungguh merugilah orang yang mengotori (jiwa)nya.” (QS. Asy-Syams : 9 - 10)
3. Berupaya Meluangkan Waktu Untuk Beribadah di Bulan Ramadhan
Ingatlah bahwa tujuan kita diciptakannya di muka bumi ini bukan untuk menumpuk harta dan bukan untuk menikmati semua kesenangan dunia, namun kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman;
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ.
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56)
Ketahuilah bahwa keinginan manusia terhadap harta dunia akan senantiasa ada, meskipun usianya telah senja. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
يَهْرِمُ بْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ؛ اَلْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ.
“(Ketika) anak Adam sudah tua ada dua perkara yang tetap muda padanya, (yaitu); ketamakan terhadap harta dan ketamakan untuk (terus bertambah) umur.” (HR. Muslim Juz 2 : 1047)
Oleh karena itu, mulai sekarang aturlah pekerjaan agar besok di bulan Ramadhan ada kesempatan yang lapang untuk melakukan berbagai amalan ketaatan. Bukan berarti di bulan Ramadhan seorang mukmin tidak bekerja, namun di bulan Ramadhan seorang mukmin berupa untuk mengatur waktunya bahkan mengurangi kadar kerjanya untuk beribadah kepada Allah ﷻ. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman;
يَا ابْنَ آدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ، أَمْلَأْ صَدْرَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ. وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ، مَلَأْتُ صَدْرَكَ شُغْلًا، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكَ.
“Wahai anak Adam, luangkanlah (waktumu) untuk menyembah-Ku, (niscaya) Aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan metutupi kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukan yang demikian, (niscaya) Aku akan memenuhi hatimu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu.” (HR. Ahmad, Tirmidzi Juz 4 : 2466, Hakim Juz 2 : 3657, dan Ibnu Majah : 4107, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih Ibni Majah Juz 10 : 3315)
Yakinlah bahwa mengurangi pekerjaan di bulan Ramadhan, tidak akan mengurangi jatah rizki kita. Dengan menyibukkan diri dengan ibadah di bulan Ramadhan, justru akan mendatangkan keberkahan. ‘Ammar bin Yasir رضي الله عنه pernah mengatakan;
كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا، وَكَفَى بِالْيَقِيْنِ غِنًى، وَكَفَى بِالْعِبَادَةِ شُغْلًا.
“Cukuplah kematian sebagai peringatan, cukuplah keyakinan sebagai kekayaan dan cukuplah ibadah sebagai
kesibukan.” (Tazkiyatun Nafs, 65)
B. FASE AWAL HINGGA PERTENGAHAN RAMADHAN
Memasuki awal Ramadhan yang perlu dilakukan adalah mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai amalan yang utama. Di antara amalan yang perlu kita agendakan dalam mengisi Ramadhan adalah :
1. Shalat Tarawih Bersama Imam
Hendaknya Shalat Tarawih di malam Ramadhan dilakukan secara berjama’ah di masjid bersama imam untuk mendapatkan keutamaan pahala shalat semalam penuh. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Dzar رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ.
“Sesungguhnya barangsiapa yang shalat malam bersama imam hingga selesai, (maka) akan dituliskan baginya (pahala) shalat semalam penuh.” (HR. Ahmad, Tirmidzi Juz 3 : 806, Nasa’i Juz 3 : 1605, lafazh ini milik keduanya, Abu Dawud : 1375 dan Ibnu Majah : 1327. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Irwa’ul Ghalil : 447)
Para muslimah yang ingin mengikuti Shalat Tarawih berjama’ah di masjid hendaknya menutup diri dengan hijab yang sempurna, tidak berhias serta tidak menggunakan parfum di badan maupun di pakaiannya. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
لَا تَمْنَعُوْا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ.
“Janganlah kalian melarang para hamba wanita Allah ﷻ (untuk mendatangi) masjid-masjid Allah.” (HR. Bukhari Juz 1 : 858)
Hendaknya dalam pelaksanaan shalat tarawih berjama’ah ada istirahat setiap 4 raka’at, karena ini amalan yang diwariskan oleh para salaf. Namun tidak disyari’atkan adanya bacaan dzikir-dzikir tertentu pada saat istirahat tersebut. Yahya bin Bukair menukil dari Al-Laits رحمه الله, bahwa waktu istirahat mereka kira-kira selama satu raka’at. (Fathul Bari, 4/291)
Seorang mukmin yang bisa melaksanakan Shalat Isya’ secara berjama’ah, lalu dilanjutkan dengan Shalat Tarawih berjama’ah pula dan di masjid tersebut ia bisa bertemu dengan para ikhwan untuk mengokohkan ukhuwah di antara mereka, maka ini akan mendatangkan kenikmatan tersendiri bagi seorang mukmin. Sebagaimana perkataan Ibnul Munkadir رحمه الله;
مَا بَقِيَ مِنَ اللَّذَّاتِ إِلَّا ثَلَاثًا: قِيَامُ الَّيْلِ وَلِقَاءُ الْإِخْوَانِ وَصَلَاةُ الْجَمَاعَةِ.
“Tidak ada kenikmatan yang tersisa (di dunia ini) melainkan tiga hal, yaitu; (melakukan) shalat malam, bertemu dengan para ikhwan dan (menghadiri) shalat berjama’ah.” (Tazkiyatun Nafs, 61)
Namun perlu dijaga bahwa niat kita hadir di masjid untuk shalat berjama’ah semata-mata hanyalah karena mengharapkan pahala dan keridhaan dari Allah ﷻ.
2. Membaca Al-Qur’an Minimal Satu Kali Khataman
Seorang mukmin hendaknya berupaya untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan, karena bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Seorang yang berupaya untuk membaca Al-Qur’an meskipun dengan terbata-bata, maka ia akan mendapatkan dua pahala –tentunya dengan tetap menjaga hukum-hukum tajwidnya.- Adapun seorang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an, maka ia akan bersama dengan para Malaikat yang mulia lagi berbakti. Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
اَلَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِيْ يَقْرَؤُهُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ فَلَهُ أَجْرَانِ.
“Seorang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir, (maka kelak) ia bersama Malaikat yang mulia lagi berbakti. Seorang yang masih sulit membacanya, maka baginya dua pahala.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi Juz 5 : 2904. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 6670)
Semakin banyak bacaan Al-Qur’an seseorang, maka akan semakin banyak pula pahalanya dan akan semakin mempertinggi kedudukannya di Surga. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru رضي الله عنهما, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اِقْرَأْ وَاَرْقَأْ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا.
“Dikatakan kepada orang yang membaca Al-Qur’an, “Bacalah, perindahlah dan tartillah, sebagaimana engkau telah (terbiasa) membacanya dengan tartil ketika di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu (di Surga) berada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban Juz 3 : 766. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 8122)
Oleh karena itu, usahakan dalam durasi satu bulan Ramadhan bisa mengkhatamkan Al-Qur’an minimal satu kali khataman. Daripada hari-hari Ramadhan diisi dengan berbincang tentang perkara yang kurang bermanfaat, lebih baik waktu yang ada digunakan untuk banyak membaca Al-Qur’an. Berkata Muhammad bin Ajlan رحمه الله
;
إِنَّمَا الْكَلَامُ أَرْبَعَةٌ: أَنْ تَذْكُرَ اللَّهَ، وَتَقْرَأَ الْقُرْآنَ، وَتُسْئِلَ عَنْ عِلْمٍ فَتُخْبِرُ بِهِ، أَوْ تَكَلَّمَ فِيْمَا يَعْنِيْكَ مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا.
“Sesungguhnya berbicara itu hanya untuk empat hal, (yaitu); engkau mengingat Allah ﷻ, engkau membaca Al-Qur’an, engkau ditanya tentang ilmu lalu engkau menjawabnya, atau engkau berbicara tentang sesuatu yang bermanfaat dari urusan dunia.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 134)
3. Akhirkan Sahur
Perbedaan antara puasanya orang-orang ahli kitab dengan puasanya orang Islam adalah pada makan sahur. Orang-orang ahli kitab berpuasa tanpa sahur, sedangkan orang Islam diperintahkan untuk makan sahur sebelum berpuasa. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Amru bin Al-‘Ash رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحْرِ.
“Perbedaan antara puasa kita dengan puasanya (orang-orang) ahli kitab (adalah terletak pada) makan sahur.” (HR. Ahmad dan Muslim Juz 2 : 1096, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 4207)
Makan sahur akan mendatangkan keberkahan, karena Allah ﷻ dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
اَلسَّحُوْرُ أَكْلَةُ بَرَكَةٍ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ.
“Sahur merupakan makanan yang berkah. Maka janganlah kalian tinggalkan meskipun hanya dengan meminum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah ﷻ dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur.” (HR. Ahmad. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 3683)
Usahakan untuk tidak meninggalkan makan kurma ketika sahur, karena kurma merupakan sebaik-baik makanan sahur bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah y, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
نِعْمَ سَحُوْرِ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ.
“Sebaik-baik (makanan) sahur orang yang beriman adalah kurma.” (HR. Abu Dawud : 2345 dan Ibnu Hibban Juz 8 : 3475. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihut Targhib wat Tarhib Juz 1 : 1073)
Hendaknya seorang mukmin mengakhirkan makan sahurnya di akhir malam. Sebagaimana perintah Rasulullah ﷺ dalam hadits yang diriwayatkan dari Ummu Hakim رضي الله عنها, Rasulullah ﷺ bersabda;
عَجِّلُوا الْإِفْطَارَ وَأَخِرُوا السَّحُوْرَ.
“Segerakanlah berbuka dan akhirkanlah sahur.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 2 : 1856 dan Muslim Juz 2 : 1098)
Waktu utama untuk mengakhirkan shahur adalah sekitar setengah jam dari adzan Shubuh. Diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه, dari Zaid bin Tsabit رضي الله عنه, ia berkata;
تَسَحَرْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ قَلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالسَّحُوْرِ؟ قَالَ قَدْرَ خَمْسِيْنَ آيَةً.
“Kami sahur bersama Nabi ﷺ, kemudian beliau bangkit untuk mengerjakan Shalat (Shubuh).” Anas رضي الله عنه bertanya, “Berapa jarak antara adzan (Shubuh) dengan sahur?” Zaid رضي الله عنه menjawab, “Kira-kira bacaan (Al-Qur’an) lima puluh ayat.” (HR. Bukhari Juz 2 : 1821, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 2 : 1097)
4. Jaga Keutuhan Pahala Puasa
Awal mula diwajibkannya puasa Ramadhan kepada orang-orang yang beriman adalah pada tahun ke-2 H. Rasulullah ﷺ semasa hidupnya telah melaksanakan puasa Ramadhan sebanyak sembilan kali. Allah ﷻ berfirman;
يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ.
”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian (dari kalangan ahli kitab) (Jami’ul Bayan, Ibnu Jarir Ath-Thabari) agar kalian bertaqwa, (karena puasa merupakan sarana menuju ketaqwaan). (Mukhtasharul Tafsiril Baghawi, 66)” (QS. Al-Baqarah : 183)
Ketahuilah bahwa puasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makan, minum dan pembatal-pembatal puasa yang lainnya, namun puasa juga harus terjaga keutuhan pahalanya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
لَيْسَ الصِّيْامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ.
“Puasa bukan hanya (menahan) makan dan minum. Namun puasa adalah (menahan) dari hal-hal yang sia-sia dan (menahan dari) perkataan kotor. Jika ada seseorang yang mencelamu atau berbuat jahil kepadamu, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku sedang puasa.” (HR. Baihaqi Juz 4 : 8096, Ibnu Khuzaimah Juz 3 : 1996, Hakim Juz 1 : 1570, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 5376)
Puasa yang tidak terjaga keutuhan pahalanya dari perusak pahala puasa –seperti; ghibah, namimah, dusta, mencela, dan lain sebagainya,- maka hanya akan menggugurkan kewajiban saja. Puasa yang seperti ini tidak lebih hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka, tanpa mendapatkan pahala. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوْعُ. وَرُبَّ قِائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan dari puasanya (tersebut) melainkan (hanya) rasa lapar. Berapa banyak orang yang berdiri (shalat), namun ia tidak mendapatkan dari berdirinya (tersebut) melainkan (hanya) begadang malam.” (HR. Ibnu Majah : 1690. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih Ibni Majah Juz 5 : 1371)
Ketika puasa seseorang terjaga dari perusak pahala puasa, maka Allah ﷻ akan melipat gandakan pahala puasa dengan jumlah hitungan yang tidak terhitung. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِيْ
“Setiap amalan (kebaikan) anak Adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan dilipatgandakan (menjadi) sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ﷻ berfirman, ”Kecuali puasa, karena sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat dan makannya karena Aku.” (Muttafaq ’alaih. HR. Bukhari Juz 2 : 1805 dan Muslim Juz 2 : 1151, lafazh ini miliknya)
Seorang yang mengisi hari-harinya dengan banyak membaca Al-Qur’an dan berpuasa, niscaya keimanannya akan meningkat. Berkata Ibnu Mas’ud رضي الله عنه;
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ مَلَأَ اللَّهُ قَلْبَهُ إِيْمَانًا: مَحَبَّةُ الْفَقِيْهِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ وَالصِّيَامُ.
“Tiga hal yang barangsiapa ada pada dirinya, maka Allah ﷻ akan memenuhi hatinya dengan keimanan, (yaitu); mencintai orang yang faqih, membaca Al-Qur’an dan berpuasa.” (Al-Adabusy-Syar’iyah, 3/544)
5. Jaga Shalat Rawatib 12 Raka’at
Seorang mukmin yang berhasil menjaga 12 raka’at Shalat Rawatib, maka Allah ﷻ akan membangunkan baginya rumah di Surga. Sebagaimana diriwayatkan dari Ummu Habibah رضي الله عنها -istri Nabi ﷺ- ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda;
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَوْ إِلَّا بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ.
”Tidaklah seorang hamba muslim mengerjakan shalat karena Allah ﷻ setiap hari 12 raka’at shalat sunnah selain shalat fardhu, melainkan Allah ﷻ akan membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga atau melainkan akan dibangunkan baginya sebuah rumah di Surga.” (HR. Muslim Juz 1 : 728)
6. Biasakan Infak Setiap Hari
Usahakan untuk bisa berinfak setiap hari. Karena pada setiap pagi turun dua Malaikat yang akan mendoakan kebaikan kepada orang-orang yang menginfakkan hartanya dan akan mendoakan kehancuran bagi orang-orang yang menahan infaknya. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda;
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُوْلُ الْآخَرُ اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.
“Tidak ada hari yang ada seorang hamba (hidup) di dalamnya, kecuali turun dua Malaikat. Berkata salah satu dari keduanya, “Ya Allah berikanlah ganti (bagi orang yang) berinfak (hari ini).” Dan berkata Malaikat yang lainnya, “Ya Allah berikanlah kehancuran (bagi orang yang) menahan (infaknya hari ini).” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 2 : 1374 dan Muslim Juz 2 : 1010)
Yakinlah bahwa infak dan sedekah tidak akan mengurangi harta. Harta yang dikeluarkan untuk berinfak akan senantiasa diganti oleh Allah ﷻ. Allah q berfirman;
وَمَآ أَنْفَقْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ.
“Apa saja yang kalian nafkahkan, maka Allah ﷻ akan menggantinya dan Dia adalah sebaik-baik Pemberi rizki.” (QS. Saba’ : 39)
Rasulullah ﷺ juga menegaskan dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda;
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ.
“Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidaklah Allah ﷻ menambah (sifat) pemaaf pada seorang hamba, kecuali (akan menambah) kemuliaan (hamba tersebut). Tidaklah salah seorang di antara kalian rendah hati (tawadhu’) karena Allah ﷻ, kecuali Allah ﷻ (akan) mengangkat (derajat)nya.” (HR. Ahmad, Muslim Juz 4 : 2588, lafazh ini miliknya dan Tirmidzi Juz 4 : 2029. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 5809)
Diriwayatkan pula dari Abu Kabsyah Al-Anmari رضي الله عنه, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda;
مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزَّا وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ
“Harta seorang hamba tidak akan berkurang dengan sedekah. Tidaklah ada seorang hamba yang dizhalimi lalu ia bersabar terhadap kezhaliman tersebut, kecuali Allah ﷻ akan menambah kemuliaan kepadanya. Tidaklah seorang hamba membuka pintu meminta-minta, kecuali Allah ﷻ akan membuka pintu kefakiran kepadanya.” (HR. Tirmidzi Juz 4 : 2325. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 3024)
Ketahuilah bahwa hakikat harta yang kelak benar-benar akan menjadi milik kita adalah harta yang kita infakkan di jalan Allah ﷻ. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Abdullah (bin Mas’ud) رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
اِعْلَمُوْا أَنَّهُ لَيْسَ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ، مَالُكَ مَا قَدَّمْتَ وَمَالُ وَارِثِكَ مَا أَخَّرْتَ.
“Ketahuilah sesungguhnya tidak seorang pun dari kalian, kecuali harta ahli warisnya lebih dicintainya daripada harta miliknya. Hartamu (yang sebenarnya) adalah apa yang engkau infakkan, sedangkan harta ahli warismu adalah apa yang (akan) engkau tinggalkan.” (HR. Nasa’i Juz 6 : 3612. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 1070)
7. Biasakan Berdzikir
Isilah hari-hari Ramadhan dengan banyak berdzikir, baik itu dengan dzikir yang mutlaq maupun dzikir yang muqayyad. Di antaranya contoh dzikir yang muqayyad adalah dzikir pagi petang. Bacaan dalam dzikir pagi petang memiliki keutamaan. Di antara bacaan yang memiliki keutamaan besar adalah bacaan sayyidul istighfar. Diriwayatkan dari Syaddad bin Aus رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ;
سَيِّدُ الْاِسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُوْلَ: اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ. قَالَ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.
“Sayyidul istighfar adalah engkau membaca, “Ya Allah, Engkau adalah Rabb-ku, tidak ada sesembahan (yang berhak untuk disembah) selain Engkau. Engkau yang telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku yakin dengan janji-Mu dan (aku setia pada) perjanjianku (dengan)-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah aku lakukan. Aku mengakui nikmat-Mu atasku dan aku mengakui dosaku. Maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.” Barangsiapa yang membacanya dengan yakin di waktu siang lalu ia meninggal dunia sebelum masuk waktu sore, maka ia termasuk penduduk Surga. Barangsiapa yang membacanya dengan yakin di waktu malam lalu ia meninggal dunia sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penduduk Surga.” (HR. Ahmad, Bukhari Juz 5 : 5947, lafazh ini miliknya, Nasa’i Juz 8 : 5522, dan Ibnu Hibban Juz 3 : 933. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 3674)
Di antara contoh dzikir mutlaq adalah memperbanyak membaca tasbih, ”Subhanallahi wa bihamdihi Subhanallahil ’Azhim.” Bacaan tasbih tersebut merupakan bacaan yang ringan untuk diucapkan, namun pahalanya akan memberatkan timbangan amalan kebaikan kelak pada Hari Kiamat. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Nabi ﷺ bersabda;
كَلِمَتَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِي الْمِيْزَانِ؛ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيْمِ.
“Dua kalimat yang dicintai oleh (Allah ﷻ) Ar-Rahman, yang ringan (diucapkan) di lisan, (namun) berat (pahalanya) di timbangan (pada Hari Kiamat), (yaitu); ”Maha Suci Allah ﷻ segala pujian (hanya bagi)-Nya, Maha Suci Allah ﷻ Yang Maha Agung.” (HR. Bukhari Juz 6 : 7124, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 4 : 2694. Hadits ini merupakan hadits terakhir dalam Shahihul Bukhari)
8. Biasakan Shalat Dhuha Minimal 4 Raka’at
Membiasakan melakukan Shalat Dhuha 4 raka’at akan membantu melancarkan rizki. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Darda’ dan Abu Dzar رضي الله عنهما, dari Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman;
اِبْنُ آدَمَ اِرْكَعْ لِيْ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ آخِرَهُ.
“Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku 4 raka’at (Dhuha) di awal siang, niscaya Aku mencukupimu di akhirnya.” (HR. Ahmad, Tirmidzi Juz 2 : 475 dan Abu Dawud : 1289)
9. Perbanyak Berdoa
Puasa merupakan salah satu penyebab dikabulkannya doa. Oleh karena itu orang yang berpuasa hendaknya memperbanyak berdoa ketika puasa. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda;
ثَلَاثُ دَعْوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ : دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ.
“Ada tiga doa yang mustajab; doanya orang yang berpuasa, doanya orang yang terzhalimi dan doanya orang yang sedang bepergian.” (HR. Ibnu Hibban. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 3030)
Seorang mukmin hendaknya berdoa dalam keadaan ia yakin bahwa doanya akan dikabulkan oleh Allah ﷻ. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
اُدْعُوْا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالْإِجَابَةِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ.
“Berdoalah kepada Allah ﷻ (dalam keadaan) kalian yakin (bahwa doa kalian akan akan) dikabulkan. Ketahuilah bahwa Allah ﷻ tidak menerima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (HR. Tirmidzi Juz 5 : 3479 dan Hakim Juz 1 : 1817, lafazh ini miliknya. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 245)
10. Beri Makanan Untuk Berbuka
Seorang yang memberi makanan berbuka untuk orang yang berpuasa, niscaya akan mendapatkan tambahan pahala seperti pahala orang yang berpuasa. Sebagaimana diriwayatkan dari Zaid bin Khalid Al-Juhani y, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa memberi (makanan untuk) berbuka kepada orang yang berpuasa, maka ia memperoleh seperti pahalanya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (tersebut) sedikit pun.” (HR. Tirmidzi Juz 3 : 807, lafazh ini miliknya dan Ibnu Majah : 1746. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 6415)
Allah ﷻ juga telah menyediakan kamar spesial di Surga bagi orang-orang yang terbiasa memberikan makan. Diriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy’ari رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا يُرَى ظَاهِرُهَا مِنْ بَاطِنِهَا وَبَاطِنُهَا مِنْ ظَاهِرِهَا أَعَدَّهَا اللَّهُ لِمَنْ أَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَفْشَى السَّلَامَ وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ.
”Sesungguhnya di Surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalamnya, dan bagian dalamnya terihat dari luarnya. Allah ﷻ menyediakan (kamar-kamar tersebut) untuk orang-orang yang gemar memberikan makan, menyebarkan salam, dan melakukan shalat di malam hari (ketika) manusia sedang tidur.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban Juz 2 : 509, lafazh ini miliknya. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 2123)
C. FASE AKHIR RAMADHAN
Ketika memasuki sepuluh terakhir Ramadhan di antara amalan yang perlu dilakukan adalah :
1. I’tikaf di Masjid
Saat memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, maka seorang mukmin hendaknya semakin meningkatkan ibadahnya, di antaranya dengan melakukan i’tikaf. Persiapkan bekal untuk melakukan i’tikaf di masjid selama sepuluh hari terakhir Ramadhan. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits yang diriwayatkan dari ’Aisyah رضي الله عنها, ia berkata;
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
”Bahwa Nabi ﷺ beri’tikaf sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai Allah ﷻ mewafatkannya, kemudian isteri-isteri beliau beri’tikaf sesudah beliau.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 2 : 1922, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 2 : 1172)
2. Bangkit Mencari Lailatul Qadar
Seorang mukmin hendaknya bangun di sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk mencari lailatul qadar. Diriwayatkan dari ’Aisyah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
تَحَرُّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari Juz 2 : 1913, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 2 : 1169)
Seorang mukmin hendaknya tidak hanya mencari lailatul qadar pada malam-malam ganjil saja, namun hendaknya ia juga mencarinya pada setiap malam di sepuluh terakhir Ramadhan, baik itu malam ganjil ataupun malam genap. Karena lailatur qadar juga berpeluang terjadi di malam genap. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
اِلْتَمِسُوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْتَمِسُوْهَا فِيْ التَاسِعَةِ، وَالسَّابِعَةِ، وَالْخَامِسَةِ. قَالَ: قُلْتُ يَا أَبَا سَعِيْدٍ، إِنَّكُمْ أَعْلَمُ بِالْعَدَدِ مِنَّا، قَالَ: أَجَلْ، قُلْتُ: مَا التَّاسِعَةُ وَالسَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةُ؟ قَالَ: إِذَا مَضَتْ وَاحِدَةٌ وَعِشْرُوْنَ فَالَّتِيْ تَلِيْهَا التَّاسِعَةُ، وَإِذَا مَضَى ثَلَاثٌ وَعِشْرُوْنَ فَالَّتِيْ تَلِيْهَا السَّابِعَةُ، وَإِذَا مَضَى خَمْسٌ وَعِشْرُوْنَ فَالَّتِيْ تَلِيْهَا الْخَامِسَةُ.
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan. Carilah pada (malam) ke-9, ke-7 dan ke-5.” Abu Nadhrah رحمه الله berkata, “Aku bertanya, “Wahai Abu Sa’id, sesungguhnya engkau lebih mengetahui tentang hitungan daripada kami.” Abu Sa’id رضي الله عنه menjawab, “Benar.” Aku berkata, “Apa (maksudnya malam) ke-9, ke-7 dan ke-5?” Abu Sa’id رضي الله عنه menjawab, “Jika telah berlalu malam malam ke-21, maka malam setelahnya adalah malam ke-9. Jika telah berlalu malam malam ke-23, maka malam setelahnya adalah malam ke-7. Jika telah berlalu malam malam ke-25, maka malam setelahnya adalah malam ke-5.” (HR. Ahmad, Muslim Juz 2 : 1167 dan Abu Dawud : 1383, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 1245)
Di antara amalan yang utama ketika lailatul qadar adalah melakukan qiyamul lail. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa (melakukan shalat ketika) lailatul qadar karena keimanan dan mencari pahala, niscaya (akan) diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Juz 2 : 1802 dan Muslim Juz 1 : 760)
Kita dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca;
اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf. Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi Juz 5 : 3513 dan Ibnu Majah : 3850, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 4423)
Di antara tanda terjadinya lailatul qadar adalah malam cerah, tidak panas dan tidak dingin, lalu keesokan harinya matahari terbit tanpa sinar yang menyilaukan. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, (beliau bersabda) tentang lailatul qadar;
لَيْلَةٌ طَلِقَةٌ لَا حَارَةَ وَلَا بَارِدَةَ تُصْبِحُ الشَّمْسُ يَوْمَهَا حَمْرَاءَ ضَعِيْفَةً.
“Malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin. Pagi harinya matahari terbit memerah dan (cahayanya) lemah.” (HR. Ibnu Khuzaimah Juz 3 : 2192. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 5475)
Diriwayatkan pula dari Ubay bin Ka’ab رضي الله عنه, ia berkata;
أَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِيْ صَبِيْحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا.
“Tanda-tanda (lailatul qadar) adalah matahari terbit pada pagi harinya (tampak) putih tanpa sinar (yang menyilaukan).” (HR. Muslim Juz 1 : 762)
Lailatul qadar akan senantiasa ada setiap tahun di bulan Ramadhan hingga datangnya Hari Kiamat. Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir ‘As-Sa’di رحمه الله
; (Beliau adalah seorang Ulama’ yang wafat tahun 1376 H, bertepatan dengan 1955 M)
وَهِيَ بَاقِيَةٌ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ. وَلِهَذَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ وَيَكْثُرُ مِنَ التَّعَبُّدِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، رَجَاءً لَيْلَةَ الْقَدْرِ.
“(Lailatul qadar) tersebut akan terus ada setiap tahun hingga datangnya Hari Kiamat. Oleh karena itu Nabi ﷺ senantiasa beri’tikaf dan memperbanyak ibadah pada sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan, karena berharap agar mendapatkan lailatul qadar.” (Taisirul Karimir Rahman, 947)
3. Tunaikan Zakat Fithri
Zakat fithri berfungsi untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan ucapan kotor sekaligus untuk memberi makan kepada orang-orang miskin. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما, ia berkata;
فَرَضَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ
”Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan ucapan kotor, serta untuk memberi makan orang-orang miskin.” (HR. Abu Dawud : 1609, lafazh ini miliknya dan Ibnu Majah : 1827. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 3570)
‘Umar bin ‘Abdul Aziz رحمه الله mengirimkan surat ke berbagai pelosok negeri memerintahkan mereka agar mengakhiri Ramadhan dengan istighfar dan zakat fithri. Karena zakat fithri dapat membersihkan orang yang telah melakukan ibadah puasa dari perbuatan keji dan sia-sia. Sedangkan istighfar akan melengkapi kekurangan yang ada pada ibadah puasa. (Bughyatul Insan fi Wazhaif Ramadhan, Ibnu Rajab Al-Hambali)
4. Perbanyak Takbir di Hari ‘Ied
Pada Hari Raya ‘Idul Fitri kaum muslimin disunnahkan untuk membaca takbir, baik ketika; di rumah, di jalan maupun di masjid hingga Shalat ‘Idul Fitri selesai dilaksanakan. Allah ﷻ berfirman;
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ.
“Hendaklah kalian mencukupkan bilangannya dan hendaklah kalian mengagungkan Allah ﷻ atas petunjuk-Nya yang telah diberikan kepada kalian agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185)
5. Tunaikan Shalat ‘Ied
Kaum muslimin hendaknya berbondong-bondong untuk melaksanakan Shalat ‘Idul Fitri sebagai bentuk kesyukuran mereka kepada Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman;
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى. وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى.
”Sungguh beruntunglah orang yang mensucikan diri (dengan mengeluarkan zakat fithri). Ia mengingat nama Rabb-nya, lalu ia (mendirikan) shalat (‘Idul Fitri). (Taisirul Karimir Rahman, 921)” (QS. Al-A’la : 14 - 15)
D. FASE SELEPAS RAMADHAN
Setelah berakhirnya bulan Ramadhan di antara yang perlu dilakukan adalah :
1. Memohon Agar Semua Ibadah Diterima Oleh Allah ﷻ
Selepas Ramadhan seorang mukmin hendaknya memohon agar amalannya selama Ramadhan diterima oleh Allah ﷻ. Karena seorang tidak mengetahui dengan pasti; apakah amalannya telah diterima oleh Allah ﷻ atau tidak. Berkata ‘Abdul ‘Aziz bin Ruwwad رحمه الله;
“Aku mendapati generasi terdahulu bersungguh-sungguh dalam melakukan ibadah. Apabila mereka telah selesai melakukan suatu amalan ibadah, meresap dalam hati mereka kegelisahan; apakah Allah ﷻ menerima amalan tersebut atau tidak?” (Bughyatul Insan fi Wazhaif Ramadhan, Ibnu Rajab Al-Hambali)
Suatu ketika Wuhaib bin Ward رحمه الله melihat suatu kaum yang tertawa riang pada hari raya ‘Idul Fitri, maka beliau pun berkata;
“Jika mereka adalah orang yang diterima amalannya, maka sungguh bukan seperti itu ekspresi orang-orang yang bersyukur. Sedangkan jika amalan mereka tidak diterima, maka bukan seperti itu sikap orang-orang yang takut.” (Bughyatul Insan fi Wazhaif Ramadhan, Ibnu Rajab Al-Hambali)
‘Ali (bin Abi Thalib) رضي الله عنه pernah berpesan; (Beliau adalah seorang Khulafaur Rasyidin yang wafat tahun 40 H di Kufah)
“Jadilah kalian orang-orang yang serius memperhatikan diterimanya amalan daripada amalan itu sendiri. Apakah kalian tidak mendengar firman Allah ﷻ;
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ.
“Sesungguhnya Allah ﷻ hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertaqwa (QS. Al-Maidah : 27).” (Bughyatul Insan fi Wazhaif Ramadhan, Ibnu Rajab Al-Hambali)
‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما juga pernah mengatakan; (Beliau adalah seorang Sahabat yang wafat tahun 73 H di Makkah)
لَوْ عَلِمْتُ أَنَّ اللَّهَ تَقَبَّلَ مِنِّيْ سَجْدَةً وَاحِدَةً أَوْ صَدَقَةَ دِرْهَمٍ وَاحِدٍ، لَمْ يَكُنْ غَائِبٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الْمَوْتِ، أَتَدْرِيْ مِمَّنْ يَتَقَبَّلُ اللَّهُ؟ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ.
“Seandainya aku mengetahui bahwa Allah ﷻ telah menerima dariku satu sujud atau satu sedekah (senilai) satu dirham saja, niscaya tidak ada perkara ghaib yang lebih aku cintai daripada kematian. Tahukah engkau siapakah yang yang diterima (amalannya) oleh Allah ﷻ? “Sesungguhnya Allah ﷻ hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertaqwa (QS. Al-Maidah : 27).” (Tazkiyatun Nafs, 74)
2. Tunaikan Puasa Enam Hari di Bulan Syawwal
Puasa Ramadhan yang diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka seperti berpuasa selama satu tahun. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Ayyub Al-Anshari رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ.
“Barangsiapa yang berpuasa bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan (berpuasa) enam hari di bulan Syawwal, maka seperti puasa satu tahun.” (HR. Muslim Juz 2 : 1164, lafazh ini miliknya, Tirmidzi Juz 3 : 759, Abu Dawud : 2433 dan Ibnu Majah : 1716)
3. Tampak Cerminan Ketaqwaan
Tujuan disyari’atkannya puasa Ramadhan adalah agar orang-orang yang beriman semakin meningkat kualitas ketaqwaannya kepada Allah ﷻ. Sehingga idealnya selepas Ramadhan tampak cerminan ketaqwaan tersebut. ‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه menyebutkan di antara ciri-ciri orang yang bertaqwa adalah;
اَلتَّقْوَى هُوَ الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ، وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ، وَالْقَنَاعَةُ بِالْقَلِيْلِ، وَالْإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ.
“Ketaqwaan adalah; takut kepada (Allah ﷻ) yang Maha Mulia, beramal dengan (bimbingan kitab Al-Qur’an) yang diturunkan, qana’ah dengan (rizki) yang sedikit dan bersiap-siap untuk menghadapi hari perjalanan (setelah kematian).” (Mitsaq ‘Amalil Islam, 194)
Cerminan ketaqwaan juga akan tampak pada ucapan. Seorang mukmin akan lebih berhati-hati dalam bertutur kata, karena ia meyakini bahwa perkataan merupakan bagian dari amalan yang akan dicatat oleh Malaikat. Wuhaib bin Ward رحمه الله pernah mengatakan;
مَنْ عَدَّ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ قَلَّ كَلَامُهُ.
“Barangsiapa yang menganggap bahwa perkataannya merupakan bagian dari amalannya (yang akan dicatat oleh Malaikat), niscaya ia akan sedikit berbicara.” (Shifatush Shafwah, 2/222)
Orang yang bertaqwa juga akan berupaya untuk menyembunyikan amalan kebaikannya untuk menjaga keikhlasannya. Berkata Ibnul Qayyim رحمه الله;
اَلْمُخْلِصُ مَنْ يَكْتُمُ حَسَنَاتَهُ كَمَا يَكْتُمُ سَيِّئَاتَهُ.
“Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, sebagaimana ia menyembunyikan keburukan-keburukannya.” (Tazkiyatun Nafs,17)
Taqwa kepada Allah ﷻ akan mengantarkan seorang mukmin menuju Surga Allah ﷻ. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata;
سُئِلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسُ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسُ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ.
“Rasulullah ﷺ ditanya tentang (sesuatu) yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Surga. Rasulullah ﷺ menjawab, “Taqwa kepada Allah ﷻ dan akhlak yang mulia.” Beliau juga ditanya tentang (sesuatu) yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam Neraka. Rasulullah ﷺ menjawab, “Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi Juz 4 : 2004. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihut Targhib wat Tarhib Juz 2 : 1723)
KHATIMAH
Marilah kita bangkit untuk menyongsong datangnya bulan Ramadhan. Isilah bulan Ramadhan dengan berbagai amalan kebaikan, karena bulan Ramadhan adalah bulan ibadah, bulan Ramadhan merupakan bulan untuk menaman amalan kebaikan. Semoga dengan demikian kita termasuk orang-orang yang mampu meraih keutamaan yang besar di bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan. Sungguh indah apa yang dikatakan oleh ‘Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه;
مَنْ زَرَعَ خَيْرًا فَيُوْشِكُ أَنْ يَحْصُدَ رَغْبَةً، وَمَنْ زَرَعَ شَرًّا فَيُوْشِكُ أَنْ يَحْصُدَ نَدَامَةً، وَلِكُلِّ زَارِعٍ مِثْلُ مَا زَرَعَ
“Barangsiapa yang menanam kebaikan, niscaya ia akan memetik kebahagiaan. Barangsiapa yang menanam keburukan, niscaya ia akan menuai penyesalan. Setiap orang yang menanam akan mendapatkan sesuai apa yang ia tanam.” (Shifatush Shafwah, 1/409)
Akhirnya marilah kita memohon kepada Allah ﷻ semoga kita diberikan kemudahan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan dan diberikan kemudahan pula untuk mengisinya dengan berbagai amalah ibadah yang optimal. Kita juga memohon kepada Allah ﷻ semoga kita bisa mendapatkan lailatul qadar, dosa-dosa kita diampuni oleh Allah ﷻ, dan semoga seluruh amalan ibadah kita diterima oleh Allah ﷻ.
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنَا إِلَى رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لَنَا رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلًا. اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعَا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ.
*****
MARAJI’
1.Al-Qur’anul Karim.
2.Al-Jami’ush Shahih, Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al-Bukhari.
3.Al-Jami’ush Shahih Sunanut Tirmidzi, Muhammad bin Isa At-Tirmidzi.
4.Bughyatul Insan fi Wazhaif Ramadhan, Ibnu Rajab Al-Hambali.
5.Irwa’ul Ghalil fi Takhriji Ahadits Manaris Sabil, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
6.Jami’ul ’Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hambali.
7.Mukhtashar Tafsiril Baghawi, ’Abdullah bin Ahmad bin ’Ali Az-Zaid.
8.Musnad Ahmad, Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy-Syaibani.
9.Mustadrak ’alash Shahihain, Abu ’Abdillah Muhammad bin ’Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi.
10.Shahih Ibni Hibban, Ibnu Hibban.
11.Shahih Ibni Majah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
12.Shahih Ibni Khuzaimah, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah An-Naisaburi.
13.Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi.
14.Shahihul Jami’ish Shaghir, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
15.Shahihut Targhib wat Tarhib, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
16.Sunan Abi Dawud, Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats bin ‘Amr Al-Azdi As-Sijistani.
17.Sunan An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib An-Nasa’i.
18.Sunan Ibni Majah, Muhammad bin Yazid bin ‘Abdillah Ibnu Majah Al-Qazwini.
19.Sunanul Baihaqil Kubra, Ahmad bin Husain bin ‘Ali bin Musa Al-Baihaqi.
20.Taisirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

Kategori : Mutiara Nasihat