LANGKAH-LANGKAH SAAT TERJADI WABAH

  • 28 Mar 2020 08:13:12
Image

Penulis: Ustadz Dr. Irfan Yuhadi, M.S.I
Al-Qur’anul Karim telah menyebutkan bahwa dahulu ada sekelompok kaum yang keluar dari kampung halaman mereka, karena adanya wabah. Allah ﷻ berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 243;
‌أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوْفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوْتُوْا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ.
“Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedangkan jumlah mereka (adalah) ribuan karena takut mati. Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kalian.” Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, namun kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 243)
Maknanya adalah; apakah engkau tidak memperhatikan kisah orang-orang yang keluar dari tempat tinggal mereka, sedangkan jumlah mereka adalah ribuan karena takut mati akibat wabah atau yang lainnya (Al-Mukhtashar fi Tafsir, 39). Allah ﷻ berfirman kepada mereka, “Matilah kalian.” Maka mereka semua meninggal dunia dalam sekejap. Setelah lewat beberapa waktu, kemudian Allah ﷻ menghidupkan mereka kembali untuk mereka menyempurnakan ajal mereka serta agar mereka mengambil pelajaran dan bertaubat (At-Tafsirul Muyassar, 39). Sesungguhnya Allah ﷻ memberikan karunia yang besar kepada manusia berupa kenikmatan yang sangat banyak, namun kebanyakan manusia tidak bersyukur terhadap nikmat dari Allah ﷻ (Al-Mukhtashar fi Tafsir, 39).
Kalimat, “apakah engkau tidak memperhatikan,” merupakan pertanyaan sebagai dorongan untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan setelah kalimat tersebut (Tafsirul Jalalain, 48). Orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah sekelompok kaum dari kalangan Bani Israil yang berada di kampung Dawardan yang berjarak satu farsakh dari arah Wasith (Satu farsakh sekitar 5 Km). Saat itu terjadi wabah tha’un (Tha’un adalah kematian dalam jumlah besar karena wabah. [Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 2/357]), maka mereka keluar meninggalkan kampung halaman mereka tersebut menuju ke daerah pedalaman untuk menghindari kematian. Tibalah mereka di sebuah lembah yang luas dan jumlah mereka memenuhi lembah tersebut (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 262). Jumlah mereka lebih dari 10.000 orang, bahkan mencapai 40.000 orang (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 2/354). Allah ﷻ mematikan mereka, lalu menghidupkan kembali setelah berlalu 8 hari (Zadul Masir, 149) melalui doa salah seorang Nabi mereka (Taisirul Karimir Rahman, 106), agar mereka mengetahui bahwa Allah ﷻ Maha Kuasa atas segala sesuatu (Zubdatut Tafsir, 39).
Mereka dimatikan sebelum tiba ajal mereka sebagai hukuman untuk mereka. Berkata Al-Hasan رحمه الله;
أَمَاتَهُمُ اللَّهُ قَبْلَ آجَالِهِمْ عُقُوْبَةً لَهُمْ، ثُمَّ بَعَثَهُمْ إِلَى بَقِيَّةِ آجَالِهِمْ.
“Allah ﷻ mematikan mereka sebelum (sampai) ajal mereka sebagai hukuman untuk mereka. Kemudian Allah ﷻ menghidupkan mereka untuk menyempunakan sisa usia mereka.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 2/353)
Ayat ini menyebutkan bahwa keluarnya mereka dari kampung halaman mereka tidak dapat menyelamatkan mereka dari kematian dan tidak pula menghindarkan mereka dari apa yang mereka takutkan (Taisirul Karimir Rahman, 106). Ketika ajal kematian telah tiba, maka seseorang tidak akan dapat melarikan diri darinya. Allah ﷻ berfirman;
قُلْ لَنْ يَّنْفَعَكُمُ الْفِرَارُ إِنْ فَرَرْتُمْ مِّنَ الْمَوْتِ أَوِ الْقَتْلِ وَإِذًا لَّا تُمَتَّعُوْنَ إِلَّا قَلِيْلًا.
“Katakanlah, “Lari sekali-kali tidaklah bermanfaat bagi kalian, jika kalian melarikan diri dari kematian atau pembunuhan. Jika (kalian terhindar dari kematian) kalian tidak akan merasakan kesenangan melainkan hanya sebentar.” (QS. Al-Ahzab : 16)
Lalu bagaimanakah langkah-langkah benar ketika seseorang berada dalam kondisi wabah? Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh seorang muslim dan muslimah di saat terjadi wabah berdasarkan nash-nash dalil yang dapat dijadikan sebagai hujjah, antara lain adalah:
1. Karantina Daerah Wabah
Jika terjadi wabah di suatu daerah, maka orang yang berada di dalam daerah tersebut tidak diperbolehkan untuk keluar. Demikian pula orang yang berada di luar daerah tersebut tidak diperbolehkan untuk masuk ke daerah tersebut. Inilah yang sekarang dikenal dengan istilah karantina (Aisarut Tafasir, 149). Di antara hikmah dilakukannya karantina adalah untuk menghindari penyebaran wabah yang lebih luas. Diriwayatkan dari Usamah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
اَلطَّاعُوْنُ رِجْزٌ أَوْ عَذَابٌ أُرْسِلَ عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدُمُوْا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوْا فِرَارًا مِنْهُ.
“Tha’un adalah kotoran atau siksaan yang dikirimkan kepada Bani Israil atau kepada (kaum) sebelum kalian. Jika kalian mendengar (itu terjadi) di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Jika itu terjadi di suatu daerah dan kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar karena (ingin) lari dari wabah tersebut.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 6 : 6573 dan Muslim Juz 4 : 2218, lafazh ini miliknya)
2. Berupaya Menghindari Penyakit Menular
Seorang muslim dan muslimah hendaknya berupaya untuk hidup sehat dan menjaga kesehatannya seoptimal mungkin. Hendaknya seorang muslim dan muslimah berupaya dengan berbagai cara untuk menjauhkan dirinya dari penyakit menular yang berbahaya, terutama ketika ia berada di daerah wabah. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda;
فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ.
“Larilah dari penyakit lepra (seperti) engkau lari dari singa.” (HR. Ahmad, lafazh ini miliknya dan Bukhari Juz 5 : 5380. ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 7530)
3. Menutup Tempat Makanan dan Minuman
Ketika malam hari hendaknya wadah-wadah yang berisi makanan minuman ditutup rapat agar wabah penyakit tidak dapat masuk ke dalamnya. Sebagaimana diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah رضي الله عنهما ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda;
غَطُّوا الْإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيْهَا وَبَاءٌ، لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ، أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ إِلَّا نَزَلَ فِيْهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ.
“Tutupkan tempat makanan dan tutuplah tempat minuman kalian, karena sesungguhnya dalam setahun terdapat satu malam yang akan turun padanya wabah. Tidaklah ia melewati tempat makanan yang tidak ditutup atau tempat minuman yang tidak ditutup, kecuali wabah tersebut akan turun ke dalamnya.” (HR. Muslim Juz 3 : 2014)
4. Mencegah Penyebaran Kekejian
Tersebarnya berbagai bentuk perzinaan dan sarana-sarana yang mengantarkan kepada perzinaan merupakan salah satu penyebab terjadinya wabah. Terlebih lagi jika perzinaan telah dilakukan secara terang-terangan. Oleh karena itu, hendaknya seluruh manusia segera bertaubat kepada Allah ﷻ dan menghentikan penyebaran sarana-sarana yang dapat mengantarkan kepada perbuatan zina. Semoga dengan demikian wabah akan segera diangkat oleh Allah ﷻ. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنهما ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيْهِمُ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِيْ أَسْلَافِهِمُ الَّذِيْنَ مَضَوْا.
“Tidaklah tersebar kekejian (perzinaan) pada suatu kaum hingga mereka mengerjakannya dengan terang-terangan, melainkan akan tersebar tha’un di antara mereka dan penyakit-penyakit yang belum mereka kenal sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah : 4019. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih Ibni Majah Juz 9 : 3246)
5. Berdoa Memohon Perlindungan dari Penyakit Berbahaya
Hendaknya seorang muslim dan muslimah berdoa memohon perlindungan kepada Allah ﷻ dari penyakit-penyakit yang menular dan berbahaya. Di antara doanya adalah:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُوْنِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّءِ الْأَسْقَامِ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari; penyakit sopak, gila, lepra dan dari penyakit-penyakit yang berbahaya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud : 1554, lafazh ini milik keduanya dan Nasa’i Juz 8 : 5493. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 1281)
Atau membaca doa;
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذِبِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوْءِ الْقَضَاءِ وَشَمَتَةِ الْأَعْدَاءِ.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari; bencana yang berat, kesengsaraan, ketetapan yang buruk, dan kegembiraan para musuh (atas bencana yang menimpaku).” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 5 : 5987 dan Muslim Juz 4 : 2707)
6. Berobat Ketika Sakit
Saat berada di daerah wabah, maka seorang berpeluang untuk teserang penyakit yang sedang mewabah di daerah tersebut. Jika seorang muslim atau muslimah –qadarullah- tertimpa wabah penyakit, maka hendaknya ia berupaya untuk mengobatinya dengan mengharapkan kesembuhan dari Allah ﷻ. Allah ﷻ berfirman;
وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ.
“Apabila aku sakit, maka Dia-lah yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syu’ara : 80)
Berobat ketika sakit tidaklah menghilangkan tawakkal kepada Allah ﷻ. Bahkan berobat ketika sakit merupakan bagian dari tawakkal kepada Allah ﷻ. Hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ dalam hadits yang diriwayatkan dari Usamah bin Syarik رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَنْزِلْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ مَعَهُ شِفَاءً إِلَّا الْمَوْتُ وَالْهَرِمُ.
“Berobatlah, (wahai) para hamba Allah ﷻ. Karena sesungguhnya Allah ﷻ tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Dia menurunkan bersama dengan penyakit (tersebut) obatnya, kecuali kematian dan tua.” (HR. Ahmad, lafazh ini miliknya, Ibnu Hibban Juz 13 : 6064 dan Hakim Juz 4 : 7430. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 7934)
7. Bersabar dan Mengharapkan Pahala Syahid
Ketika terjadi wabah di suatu daerah dan seorang sedang berada di dalamnya, maka hendaknya ia bersabar dan mengharapkan pahala syahid. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
اَلطَّاعُوْنُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ.
“Tha’un merupakan syahid bagi setiap muslim.” (HR. Bukhari Juz 3 : 2675)
Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah رضي الله عنها –isteri Nabi ﷺ,- ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang tha’un, maka Rasulullah ﷺ bersabda;
كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ فَجَعَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُوْنُ فَيَمْكُثُ فِيْ بَلَدِهِ صَابِرًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيْدِ.
“Itu merupakan siksaan yang Allah ﷻ kirimkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah ﷻ menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Tidaklah ada seorang hamba pun (yang berada di suatu negeri) yang sedang tersebar tha’un, lalu ia tetap tinggal di negerinya tersebut dengan bersabar (dan) ia mengetahui bahwa tidak akan menimpanya melainkan apa yang telah dituliskan oleh Allah ﷻ untuknya, kecuali (akan dituliskan) baginya seperti pahala orang yang mati syahid.” (HR. Bukhari Juz 5 : 5402)
Imam Al-Qurthubi رحمه الله
menjelaskan hubungan antara dua hadits di atas;
هَذَا تَفْسِيْرٌ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: ((اَلطَّاعُوْنُ شَهَادَةٌ)). أَيِ: الصَّابِرُ عَلَيْهِ الْمُحْتَسِبُ أَجْرَهُ عَلَى اللَّهِ، اَلْعَالِمُ أَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ.
“(Hadits yang kedua) ini merupakan tafsiran dari sabda (Rasulullah) ﷺ, “Tha’un merupakan syahid.” Yaitu; seorang yang bersabar atasnya, mengharapkan pahala dari Allah ﷻ, ia mengetahui (dan meyakini) bahwa tidak akan pernah menimpanya melainkan apa yang telah dituliskan oleh Allah ﷻ untuknya.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 2/358)
Sehingga seorang yang berada di daerah wabah akan mendapatkan pahala syahid jika terpenuhi 3 syarat, yaitu; (1) bersabar, (2) mengharapkan pahala dari Allah ﷻ, dan (3) ia meyakini bahwa tidak akan pernah menimpanya melainkan apa yang telah dituliskan oleh Allah ﷻ untuknya.
Khatimah
Demikianlah tafsir dari Surat Al-Baqarah ayat 243 beserta langkah-langkah saat terjadi wabah. Semoga tulisan sederhana ini bermafaat bagi kita semuanya, terutama ketika terjadi wabah. Semoga tulisan ini dapat menjadi penghibur bagi setiap muslim dan muslimah yang ditakdirkan berada di daerah wabah. Sekaligus sebagai bimbingan dan arahan untuk mereka dalam mengambil langkah yang tepat saat terjadi wabah.
Akhirnya marilah memohon kepada Allah ﷻ, semoga Allah ﷻ senantiasa melindungi kita semua dari berbagai penyakit-penyakit menular yang berbahaya dan semoga Allah segera mengangkat wabah yang terjadi di negeri kita serta di negeri kaum muslimin yang lainnya. Kita juga memohon kepada Allah ﷻ, semoga Allah ﷻ menghidupkan kita sebagai seorang muslim dan mewafatkan kita sebagai seorang muslim pula.
اَللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ وَأَحْيِنَا مُسْلِمِيْنَ وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِيْنَ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا مَفْتُوْنِيْنَ.
Semoga shalawat (dan salam) senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para Sahabat semuanya. Penutup doa kami, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
*****
MARAJI’
1.Al-Qur’anul Karim.
2.Ad-Du’a minal Kitab was Sunnah wa Yalihil Ilaj bir Ruqa minal Kitab was Sunnah, Sa’id bin ‘Ali bin Wahf Al-Qahthani.
3.Aisarut Tafasir li Kalamil ‘Aliyil Kabir, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi.
4.Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi.
5.Al-Jami’ush Shahih: Shahihul Bukhari, Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari.
6.Al-Mukhtashar fi Tafsir Qur’anil Karim, Jama’ah min ’Ulama’it Tafsir.
7.At-Tafsirul Muyassar, Shalih bin Muhammad Alu Asy-Syaikh.
8.‘Asyr Washaya li Wiqayah minal Waba’, ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.
9.Musnad Ahmad, Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy-Syaibani.
10.Mustadrak ’alash Shahihain, Abu ’Abdillah Muhammad bin ’Abdillah Al-Hakim An-Naisaburi.
11.Shahih Ibni Hibban, Ibnu Hibban.
12.Shahih Ibni Majah, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
13.Shahih Muslim, Abu Husain Muslim bin Hajjaj Al-Qusyairi An-Naisaburi.
14.Shahihul Jami’ish Shaghir, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
15.Sunan Abi Dawud, Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistani.
16.Sunan An-Nasa’i: Al-Mujtaba, Abu ‘Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib An-Nasa’i.
17.Sunan Ibni Majah, Abu ‘Abdillah Muhammad bin Yazid Ibnu Majah Al-Qazwini.
18.Tafsirul Jalalain, Jalaluddin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Al-Mahalli, Jalaluddin As-Suyuthi.
19.Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Amr bin Katsir Ad-Dimasyqi.
20.Taisirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.
21.Zadul Masir fi ‘Ilmit Tafsir, Abul Faraj Jamaluddin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Muhammad Al-Jauzi Al-Qurasyi Al-Baghdadi.
22.Zubdatut Tafsir min Fat-hil Qadir, Muhammad Sulaiman ‘Abdullah Al-Asyqar.

Kategori : Mutiara Nasihat