MENIKMATI KEINDAHAN SURGA

  • 14 Mar 2020 11:19:25
Image

Penulis: Ustadz Dr. Irfan Yuhadi, M.S.I
Allah ﷻ telah menyediakan Surga yang penuh dengan kenikmatan untuk orang-orang yang beriman. Allah ﷻ berfirman;
وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا قَالُوْا هَذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوْا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيْهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ.
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih bahwa bagi mereka (telah disediakan) Surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam Surga-surga mereka mengatakan, “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang serupa. Mereka di dalamnya mendapatkan isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 25)
Marilah sejenak kita bersama-sama menyelami keindahan Surga dengan berbagai kenikmatannya, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mulia.
1. Pintu Surga
Surga memiliki 8 pintu salah satunya adalah pintu Ar-Rayyan yang hanya akan dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa. Sebagaimana diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ beliau bersabda;
فِي الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ فِيْهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لَا يَدْخُلُهُ إِلَّا الصَّائِمُوْنَ.
”Di Surga ada 8 pintu. Di antaranya ada pintu yang bernama Ar-Rayyan yang tidak akan memasukinya, kecuali orang-orang yang berpuasa.” (Muttafaq ’alaih. HR. Bukhari Juz 3 : 3084 lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 2 : 1152)
Rasulullah ﷺ yang akan mengetuk pintu Surga, sehingga pintu tersebut terbuka dan orang-orang yang beriman dapat masuk ke dalamnya. Diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
أَنَا أَكْثَرُ الْأَنْبِيَاءِ تَبِعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ.
“Aku adalah Nabi yang paling banyak pengikutnya pada Hari Kiamat dan aku adalah orang yang pertama kali mengetuk pintu Surga.” (HR. Muslim Juz 1 : 196)
Orang-orang yang memasuki Surga akan mendapatkan ucapan salam kesejahteraan dari para Malaikat penjaga Surga. Allah ﷻ berfirman;
وَسِيْقَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَآءُوْهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوْهَا خَالِدِيْنَ.
“Orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb mereka dibawa ke dalam Surga berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke Surga dan pintu-pintunya telah terbuka (maka) berkatalah para penjaganya kepada mereka, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian berbahagialah kalian, masuklah ke dalamnya dan kalian kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zumar : 73)
2. Batu Bata Surga
Allah ﷻ menciptakan Surga dari batu bata emas dan perak dengan semen dari kesturi. Sebagaimana Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda;
خَلَقَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْجَنَّةَ لَبِنَةً مِنْ ذَهَبٍ وَلَبِنْةً مِنْ فِضَّةٍ وَمِلَاطُهَا الْمِسْكُ وَقَالَ لَهَا تَكَلَّمِيْ فَقَالَتْ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ فَقَالَتِ الْمَلَائِكَةُ طُوْبَى لَكِ مَنْزِلَ الْمُلُوْكِ.
“Allah ﷻ menciptakan Surga dari batu bata emas, batu bata perak dan semennya adalah kesturi.” Allah q berfirman kepada Surga, “Berkatalah.” Surga pun berkata, “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman.” Lalu para Malaikat berkata, “Beruntungkah engkau (wahai Surga yang merupakan) istana para raja.” (HR. Thabrani dan Bazzar. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihut Targhib wat Tarhib Juz 3 : 3714)
3. Aroma Surga
Harumya aroma Surga tercium sejauh perjalanan 40 tahun. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru رضي الله عنهما, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةً الْجَنَّةِ وَإِنَّ رَيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا.
“Barangsiapa yang membunuh orang kafir yang berada dalam perjanjian (damai), (maka) ia tidak akan mencium aroma Surga. Sesungguhnya aroma Surga sudah tercium sejauh perjalanan 40 tahun.” (HR. Bukhari Juz 3 : 2995)
4. Tingkatan di Surga
Di dalam Surga terdapat 100 tingkatan dan tingkatan Surga yang tertinggi berada di posisi yang paling atas. Berkata ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam رحمه الله;
دَرَجَاتُ النَّارِ تَذْهَبُ سَفَالًا وَدَرَجَاتُ الْجَنَّةِ تَذْهَبُ عُلُوًّا.
“Tingkatan (di) Neraka mengarah ke bawah, sedangkan tingkatan (di) Surga mengarah ke atas.” (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/159)
Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan berikutnya adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Tingkatan tertinggi di Surga adalah firdaus. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةُ دَرَجَةٍ أَعْدَهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوْهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أَرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تُفَجِّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ.
“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat 100 tingkatan yang disediakan oleh Allah ﷻ untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara dua tingkatan adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Jika kalian meminta kepada Allah ﷻ, maka mintalah Surga Firdaus. Karena sesungguhnya firdaus adalah surga yang paling tengah dan yang paling tinggi (tingkatannya). Di atasnya adalah ‘Arsy (Allah ﷻ) Ar-Rahman dan dari sanalah terpacar sungai-sungai Surga.” (HR. Bukhari Juz 3 : 2637)
5. Surga dari Perak dan dari Emas
Ada Surga yang segala sesuatu yang ada di dalamnya dari perak dan ada pula Surga yang segala sesuatu yang ada di dalamnya dari emas. Diriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Abdullah bin Qais, dari bapaknya رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيْهِمَا وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيْهِمَا وَمَا بَيْنَ الْقَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوْا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الْكِبْرِيَاءِ عَلَى وَجْهِهِ فِيْ جَنَّةِ عَدْنٍ.
“Dua Surga yang wadah-wadahnya dan segala sesuatu yang ada di dalam keduanya adalah dari perak. Dua Surga yang wadah-wadahnya dan segala sesuatu yang ada di dalam keduanya adalah dari emas. Tidak ada (penghalang) antara kaum tersebut dengan melihat Rabb mereka, kecuali selendang keagungan pada Wajah-Nya di Surga ‘Adn.” (HR. Bukhari Juz 4 : 4597 dan Muslim Juz 1 : 180, lafazh ini miliknya)
6. Postur Tubuh Penghuni Surga
Postur tubuh penghuni Surga setinggi 60 hasta yang menjulang ke langit. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak beringus dan tidak pula meludah. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَالَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لَا يَبُوْلُوْنَ وَلَا يَتَغَوَّطُوْنَ وَلَا يَتَمَخَّطُوْنَ وَلَا يَتْفُلُوْنَ أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ وَرَشْحُهُمُ الْمِسْكُ وَمُجَامِرُهُمُ الْأُلُوَّةُ وَأَزْوَاجُهُمُ الْحُوْرُ الْعِيْنُ أَخْلَاقُهُمْ عَلَى خُلُقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُوْرَةِ أَبِيْهِمْ آدَمَ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ.
“Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk Surga rupa (mereka) seperti bulan di malam purnama. Kemudian (rombongan) yang setelah mereka seperti bintang yang bersinar paling terang di langit. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak beringus dan tidak pula meludah. Sisir mereka (terbuat dari) emas, keringat mereka adalah kesturi, asapan mereka sangat harum, isteri-isteri mereka adalah bidadari yang bermata jeli, akhlak mereka (sama) seperti akhlak satu orang, (bentuk mereka) seperti bapak mereka Adam عليه السلام (dengan tinggi) 60 hasta yang menjulang ke langit.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 3 : 3149 dan Muslim Juz 4 : 2834, lafazh ini miliknya)
7. Usia Penghuni Surga
Para penghuni Surga dijadikan dalam usia 33 tahun. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ جُرْدًا مُرْدًا بَيْضًا جُعَادًا مُكَحَّلِيْنَ أَبْنَاءُ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِيْنَ عَلَى خَلْقِ آدَمَ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا فِيْ عُرْضِ سَبْعِ أَذْرُعٍ.
“Ahli Surga akan memasuki Surga dalam keadaan tidak berpakaian, tampan, berkulit putih, berambut keriting dan bercelak dalam usia 33 tahun seperti bentuk Adam عليه السلام (yang tingginya adalah) 60 hasta dengan ketebalan tubuh 7 hasta.” (HR. Ahmad. Hadits derajatnya adalah Hasan li Ghairihi menurut Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihut Targhib wat Tarhib Juz 3 : 3700.)
8. Sungai di Surga
Di dalam Surga terdapat sungai-sungai minuman dari; (Aisarut Tafasir, 5/79) (1) air yang tidak berubah rasa dan baunya, (2) susu yang tidak berubah rasanya, (3) khamer yang lezat rasanya bagi para peminumnya, dan (4) madu murni yang bersih dari campuran. (At-Tafsirul Muyassar, 915) Allah ﷻ berfirman;
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ فِيْهَآ أَنْهَارٌ مِّنْ مَّآءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِيْنَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى
”Permisalan Surga yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamer yang lezat rasanya bagi para peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang murni.” (QS. Muhammad : 15)
Diriwayatkan dari Hakim bin Mu’awiyah, dari bapaknya رضي الله عنه ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda;
فِي الْجَنَّةِ بَحْرُ اللَّبَنِ وَبَحْرُ الْمَاءِ وَبَحْرُ الْعَسَلِ وَبَحْرُ الْخَمْرِ ثُمَّ تُشَقَّقُ الْأَنْهَارُ مِنْهَا بَعْدَهُ.
“Di Surga terdapat sungai susu, sungai air, sungai madu dan sungai khamer. Kemudian setelah itu semua sungai terbelah darinya.” (HR. Ahmad, lafazh ini miliknya dan Tirmidzi Juz 4 : 2571. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani 5 dalam Shahihul Jami’ : 2122)
9. Menanam di Surga
Seorang penghuni Surga yang ingin menanam di Surga, maka dalam sekejap tanamannya akan tumbuh dan berbuah dengan sangat banyak sekali. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda;
أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اسْتَأْذَنَ رَبَّهُ فِي الزَّرْعِ فَقَالَ لَهُ أَلَسْتَ فِيْمَا شِئْتَ قَالَ بَلَى وَلَكِنِّيْ أُحِبُّ أَنْ أَزْرَعَ قَالَ فَبَذَرَ فَبَادَرَ الطَّرْفَ نَبَاتُهُ وَاسْتِوَاؤُهُ وَاسْتِحْصَادُهُ فَكَانَ أَمْثَالُ الْجِبَالِ فَيَقُوْلُ اللَّهُ دُوْنَكَ يَا بْنَ آدَمَ فَإِنَّهَ لَا يُشْبِعُكَ شَيْءٌ فَقَالَ الْأَعْرَابِيُّ وَاللَّهِ لَا تَجِدُهُ إِلَّا قُرَشِيًّا أَوْ أَنْصَارِيًّا فَإِنَّهُمْ أَصْحَابُ زَرْعٍ وَأَمَّا نَحْنُ فَلَسْنَا بِأَصْحَابِ زَرْعٍ فَضَحِكَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Sesungguhnya seorang penghuni Surga meminta izin kepada Rabb-nya untuk menanam. Maka Allah ﷻ berfirman, “Bukankah di dalam Surga (terdapat) segala sesuatu yang engkau inginkan?” Orang tersebut menjawab, “Benar, akan tetapi aku ingin menanam.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Lalu ia menabur benih dan tanaman tersebut tumbuh dalam sekejap, ia mengumpulkannya dan memanennya hingga seperti gunung.” Allah ﷻ berfirman, “Ambillah, wahai anak Adam. Sungguh tidak ada sesuatu pun yang dapat memuaskanmu.” Orang arab badui berkata, ”Demi Allah, engkau tidak akan mendapatkan orang tersebut kecuali ia adalah orang Quraisy atau orang Anshar. Karena sesungguhnya mereka adalah para petani. Adapun kami bukanlah para petani.” Maka Nabi ﷺ pun tertawa.” (HR. Ahmad dan Bukhari Juz 2 : 2221, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 2080)
10. Pohon di Surga
Pepohonan di Surga batangnya dari emas. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
مَا فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةٌ إِلَّا وَسَاقُهَا مِنْ ذَهَبٍ.
“Tidaklah ada satu pun pohon di Surga, kecuali batangnya dari emas.” (HR. Tirmidzi Juz 4 : 2525. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 5647)
11. Naungan Pohon Surga
Di Surga terdapat naungan pohon yang terbentang luas. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda;
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيْرُ الرَّاكِبُ فِيْ ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا وَإِنْ شِئْتُمْ فَاقْرَؤُوْا {وَظِلٍّ مَّمْدُوْدُ. وَمَآءٍ مَّسْكُوْبٍ}.
“Sesungguhnya di Surga terdapat sebuah pohon (jika) seorang pengendara berjalan di bawah naungannya 100 tahun (naungan tersebut) belum terputus. Jika kalian berkehendak, maka bacalah (firman Allah ﷻ), “Naungan yang terbentang luas. Dan air yang tercurah. (QS. Al-Waqi’ah : 30 - 31)” (HR. Bukhari Juz 3 : 3079 dan Tirmidzi Juz 5 : 3293, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihut Targhib wat Tarhib Juz 3 : 3725)
Di bawah naungan pohon tersebut terdapat kupu-kupu emas dan buah-buahan. Diriwayatkan dari Asma’ binti Abu Bakar رضي الله عنهما ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ menceritakan tentang Sidratul Muntaha, beliau bersabda;
يَسِيْرُ الرَّاكِبُ فِيْ ظِلِّ الْفَنَنِ مِنْهَا مِائَةَ سَنَةٍ أَوْ يَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا مَائَةُ رَاكِبٍ فِيْهَا فَرَاشُ الذَّهَبِ كَأَنَّ ثَمَرَهَا الْقِلَالُ.
“Seorang pengendara berjalan di bawah naungan salah satu dari dahannya (membutuhkan waktu) 100 tahun, atau naungan salah satu dahannya (dapat dijadikan tempat berteduh untuk) seratus pengendara. Di dalamnya terdapat kupu-kupu emas (dan) buahnya seperti kendi.” (HR. Tirmidzi Juz 4 : 2541. Hadits derajatnya adalah Hasan li Ghairihi menurut Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihut Targhib wat Tarhib Juz 3 : 3727)
12. Buah di Surga
Para penghuni Surga dimudahkan untuk memetik buah-buahan Surga, seperti; kurma, anggur, tin serta yang lainnya. (Taisirul Karimir Rahman, 798) Karena buah-buahan tersebut didekatkan kepada orang yang menginginkannya, sehingga mudah untuk dipetik baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. (Taisirul Karimir Rahman, 916) Buah-buahan tersebut juga dapat dipetik kapan pun sekehendak mereka. (Tafsirul Baghawi, 4/526) Allah ﷻ berfirman;
وَدَانِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلَالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوْفُهَا تَذْلِيْلًا.
”Naungan (pepohonan Surga) dekat di atas mereka dan (mereka) dimudahkan (untuk) memetik (buah)nya semudah-mudahnya.” (QS. Al-Insan : 14)
Buah bidara di Surga tidak berduri, bahkan memliki 72 rasa. Sebagaimana diriwayatkan dari Sulaim bin ‘Amir رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
أَلَيْسَ اللَّهُ يَقُوْلُ {فِيْ سِدْرٍ مَّخْضُوْدٍ} خَضَدَ اللَّهُ شَوْكَهُ فَجَعَلَ مَكَانَ كُلَّ شَوْكَةٍ ثَمْرَةً فَإِنَّهَا لَتَنْبُتُ ثَمَرًا تَفْتَقُ الثَّمْرَةُ مِنْهَا عَنِ اثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ لَوْنًا مِنْ طَعَامٍ مَا فِيْهَا لَوْنٌ يُشْبِهُ الْآخَرِ.
“Bukankah Allah ﷻ berfirman, “Berada di antara pohon bidara yang tidak berduri.” (QS. Al-Waqi’ah : 28) Allah ﷻ telah melenyapkan semua durinya dan menggantikan setiap durinya dengan buah. Sesungguhnya pohon bidara Surga menghasilkan banyak buah, tiap buahnya menghasilkan 72 rasa yang tiap rasanya tidak sama dengan rasa yang lainnya.” (HR. Ibnu Abid Dunya, dengan sanad yang Hasan. Hadits derajatnya adalah Shahih li Ghairihi menurut Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihut Targhib wat Tarhib Juz 3 : 3742)
Buah-buahan Surga tidak akan ada habisnya. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنهما ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنِّيْ أُرِيْتُ الْجَنَّةُ فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُوْدًا وَلَوْ أَخَذْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا.
“Sesungguhnya aku diperlihatkan Surga, maka aku berusaha untuk memetik setangkai buah anggur darinya. Seandainya aku dapat mengambilnya, niscaya kalian dapat memakannya selama masih ada (kehidupan) di dunia.” (HR. Bukhari Juz 1 : 715, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 2 : 907)
Tidak ada kesamaan antar buah-buahan di dunia dengan buah-buahan di Surga melainkan hanya sama namanya saja. Hakikatnya buah di Surga jauh lebih sempurna. Berkata Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما; (Beliau adalah seorang Sahabat yang wafat tahun 68 H di Thaif)
لَيْسَ فِي الْجَنَّةِ مِمَّا فِي الدُّنْيَا إِلَّا الْأَسْمَاءَ.
“Di dalam Surga tidak ada sesuatu pun (yang sama dengan) yang ada di dunia, kecuali hanya sekedar nama-nama saja.” (Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, 286)
13. Tempat Tinggal di Surga
Para penghuni Surga akan menempati istana yang besar dan luas yang penuh dengan kenikmatan. Allah ﷻ berfirman;
وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيْمًا وَّمُلْكًا كَبِيْرًا.
”Apabila engkau melihat di (Surga) sana, niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.” (QS. Al-Insan : 20)
Para penghuni Surga telah mengetahui tempat tinggal mereka di Surga. Sehingga mereka tidak akan salah dalam memasukinya, meskipun tidak ada yang memberitahukan tempat tinggal tersebut kepada mereka. (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 4/174) Allah ﷻ berfirman;
وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ.
”Memasukkan mereka ke dalam Surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad : 6)
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
فَوَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَّنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا.
“Demi yang jiwa Muhammad (a) berada di Tangan-Nya, sungguh salah seorang di antara mereka lebih mengetahui tempat tinggalnya di Surga (daripada) tempat tinggalnya dahulu (ketika) di dunia.” (HR. Bukhari Juz 5 : 6170)
14. Istri di Surga
Harumnya aroma wanita penghuni Surga dapat mengharumkan dunia, dan kerudung mereka lebih baik daripada dunia dan seisinya. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas رضي الله عنه ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
لَغُدْوَةٌ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ أَوْ مَوْضِعُ قَدِّهِ –يَعْنِيْ سَوْطِهِ– مِنَ الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا وَلَوِ اطَّلَعَتِ امْرَأَةٌ مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ لَمَلَأَتْ مَا بَيْنَهُمَا رِيْحًا وَلَطَانَ مَا بَيْنَهُمَا وَلَنَصِيْفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا.
“Sungguh pagi hari atau sore hari di jalan Allah ﷻ lebih baik daripada dunia dan seisinya. Sesungguhnya tempat sebesar busur panah salah seorang di antara kalian atau tempat cemetinya di Surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Seandainya wanita penghuni Surga muncul di bumi niscaya aromanya benar-benar akan memenuhi di antara (Surga dengan bumi) dan sungguh akan mengharumkan semua yang ada di antara keduanya (tersebut). Sesungguhnya kerudung yang ada di kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Ahmad, lafazh ini miliknya, Bukhari Juz 3 : 2643 dan Tirmidzi Juz 4 : 1651. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 5116)
Tidak ada penghuni Surga yang lajang di Surga. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Abul Qasim ﷺ bersabda;
إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَالَّتِيْ تَلِيْهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ يُرَى مُخُّ سُوْقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ.
“Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk Surga rupa (mereka) seperti bulan di malam purnama. Kemudian (rombongan) yang berikutnya seperti bintang yang bersinar terang di langit. Masing-masing dari mereka mendapatkan dua isteri yang sumsum tulang betisnya dapat terlihat dari balik dagingnya dan tidak ada yang lajang di Surga.” (HR. Muslim Juz 4 : 2834)
Di Surga terdapat kemah yang terbuat dari mutiara, di dalamnya terdapat isteri-isteri yang cantik jelita. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Abdullah bin Qais, dari bapaknya رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِي الْجَنَّةِ لَخَيْمَةٌ مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ طُوْلُهَا سِتُّوْنَ مِيْلًا لِلْمُؤْمِنِ فِيْهَا أَهْلُوْنَ يَطُوْفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ فَلَا يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا.
“Sesungguhnya di Surga bagi orang-orang yang beriman terdapat sebuah kemah yang terbuat dari mutiara yang dilubangi, yang panjangnya enam puluh mil. Bagi orang-orang yang beriman di dalamnya terdapat isteri-isteri yang mereka gilir. Sebagian dari mereka tidak dapat melihat sebagian yang lainnya.” (HR. Muslim Juz 4 : 2838)
Bidadari Surga akan bersenandung memuji suami mereka. Diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda;
إِنَّ الْحُوْرَ فِي الْجَنَّةِ يُغَنِّيْنَ يَقُلْنَ نَحْنُ الْحُوْرُ الْحِسَانُ هُدِيْنَا لِأَزْوَاجِ كِرَامٍ.
“Sesungguhnya bidadari di Surga bersenandung mereka mengatakan, “Kami adalah bidadari yang cantik dihadiahkan untuk suami-suami yang mulia.” (HR. Ibnu Abid Dunya dan Thabrani. Hadits derajatnya adalah Shahih li Ghairihi menurut Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihut Targhib wat Tarhib Juz 3 : 3750)
Para penghuni Surga diberikan kekuatan 100 kali lipat. Sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda;
يُعْطَى الْمُؤْمِنُ فِي الْجَنَّةِ قُوَّةً كَذَا وَكَذَا مِنَ الْجِمَاعِ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَوْيُطِيْقُ ذَلِكَ قَالَ يُعْطَى قُوَّةَ مِائَةٍ.
“Orang yang beriman di Surga diberi kekuatan begini dan begitu dalam masalah jima’.” Dikatakan, “Wahai Rasulullah, apakah ia mampu (melakukan hal) tersebut?” Rasulullah ﷺ bersabda, “Ia diberi kekuatan seratus kali lipat.” (HR. Tirmidzi Juz 4 : 2536, lafazh ini miliknya dan Ibnu Hibban Juz 16 : 7400. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 8106)
15. Punya Anak di Surga
Penghuni Surga yang menginginkan anak, maka akan langsung mendapatkan anak saat ia mengingkannya. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
اَلْمُؤْمِنُ إِذَا اشْتَهَى الْوَلَدَ فِي الْجَنَّةِ، كَانَ حَمَلُهُ وَوَضَعُهُ فِيْ سَاعَةٍ وَاحِدَةٍ كَمَا يَشْتَهِيُ.
“Seorang mukmin jika menginginkan anak di dalam Surga, (maka) kehamilan dan kelahirannya terjadi pada saat yang bersamaan, (yaitu ketika) ia menginginkan(nya).” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban Juz 16 : 7404, Tirmidzi Juz 4 : 2563 dan Ibnu Majah : 4338, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih Ibni Majah Juz 10 : 3500)
16. Pasar di Surga
Di Surga terdapat pasar yang didatangi oleh para penghuni Surga setiap Jum’at. Diriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَسُوْقًا يَأْتُوْنَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ فَتَهَبُّ رِيْحَ الشَّمَالِ فَتَحُثُّوْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ فَيَزْدَادُوْنَ حُسْنًا وَجَمَالًا فَيَرْجِعُوْنَ إِلَى أَهْلِيْهِمْ وَقَدِ ازْدَادُوْا حُسْنًا وَجَمَالًا فَيَقُوْلُ لَهُمْ أَهْلُوْهُمْ وَاللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالًا فَيَقُوْلُوْنَ وَأَنْتُمْ وَاللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالًا.
“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat pasar yang didatangi (oleh para penghuni Surga) setiap Jum’at. Berhembuslah angin utara lalu menerpa wajah-wajah mereka dan pakaian-pakaian mereka sehingga mereka semakin indah dan tampan. Kamudian mereka pulang menemui isteri-isteri mereka dalam keadaan semakin indah dan tampan. Para isteri tersebut berkata kepada mereka, “Demi Allah, sungguh engkau semakin indah dan tampan.” Lalu para suami akan menjawab, “Demi Allah, sungguh engkau juga semakin indah dan cantik.” (HR. Muslim Juz 4 : 2833)
17. Melihat Wajah Allah ﷻ di Surga
Kenikmatan terbesar yang akan didapatkan para penghuni Surga adalah melihat Wajah Allah ﷻ yang Maha Mulia. Sebagaimana diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali رضي الله عنه, ia berkata;
كُنَّا جُلُوْسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ اِنَّكُمْ سَتُعْرَضُوْنَ عَلَى رَبِّكُمْ فَتَرَوْنَهُ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّوْنَ فِيْ رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوْا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلَاةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا ثُمَّ قَرَأَ فَ{سَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوْبِ}.
“Kami duduk di sisi Nabi ﷺ lalu beliau melihat bulan (yang pada waktu itu sedang) purnama. Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat kepada Rabb kalian. Kalian akan melihatnya sebagaimana (cara) kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya. Maka barangsiapa yang mampu untuk tidak terlewatkan (melakukan) shalat (Shubuh) sebelum terbitnya matahari dan shalat (Ashar) sebelum terbenam matahari, maka lakukanlah.” Kemudian beliau membaca, ”Bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (matahari) (Surat Qaf : 39).” (HR. Bukhari Juz 6 : 6997 dan Tirmidzi Juz 4 : 2551, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 2306)
Intensitas penghuni Surga dalam melihat Allah ﷻ sesuai dengan tingkatan mereka. Berkata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di رحمه الله; (Beliau adalah seorang Ulama’ yang wafat tahun 1376 H, bertepatan dengan 1955 M)
تَنْظُرُ إِلَى رَبِّهَا عَلَى حَسَبِ مَرَاتِبِهِمْ: مِنْهُمْ مَنْ يَنْظُرُهُ كُلَّ يَوْمٍ بُكْرَةً وَعَشِيًّا، وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْظُرُهُ كُلَّ جُمْعَةٍ مَرَّةً وَاحِدَةً.
“(Mereka) akan melihat kepada Rabb-nya sesuai tingkatan mereka. Di antara mereka ada yang melihat Allah ﷻ setiap hari pada waktu pagi dan petang. Di antara mereka ada pula yang melihat Allah ﷻ sekali setiap Jum’at.” (Taisirul Karimir Rahman, 913)
Seorang mukmin hendaknya memperbanyak membaca doa yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ;
(اَللَّهُمَّ إِنِّيْ) أَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِيْ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الْإِيْمَانِ وَاجَعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ.
“(Ya Allah), (sesungguhnya) aku memohon kepadamu kenikmatan memandang wajah-Mu dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu tanpa adanya kesulitan yang membahayakan dan tanpa adanya fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan keimanan dan jadikanlah kami (termasuk) orang-orang yang mendapatkan petunjuk (dan menjadi) penyampai petunjuk (bagi orang lain).” (HR. Ahmad, Nasai Juz 3 : 1305, lafazh ini miliknya dan Hakim Juz 1 : 1923. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 1301)
Khatimah
Demikianlah sedikit gambaran tentang kenikmatan Surga yang mengalahkan seluruh kenikmatan dunia. Sa’id bin Jubair رحمه الله pernah mengatakan; (Beliau adalah seorang Tabi’in di Kufah yang wafat tahun 95 H)
إِنَّمَا الدُّنْيَا جُمْعَةٌ مِنْ جُمْعِ الْآخِرَةِ.
“Dunia hanyalah segenggam dari perbedaharaan akhirat.” (Tahdzib Siyar A’lamin Nubala’, 1/394)
Bahkan hakikat kenikmatan yang disediakan di Surga jauh lebih indah dari angan-angan manusia. Karena hakikat kenikatan Surga belum pernah terbersit pada hati manusia. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, Allah ﷻ berfirman;
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih (Surga yang kenikmatannya) yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terbersit pada hati manusia.” (HR. Bukhari Juz 3 : 3072 dan Muslim Juz 4 : 2824, lafazh ini milik keduanya)
Untuk mendapatkan berbagai kenikmatan Surga tersebut hendaknya seorang mukmin berlomba-lomba, dengan cara melakukan ketaatan kepada Allah ﷻ (Tafsirul Baghawi, 4/577) dan melakukan amal shalih yang dapat mengantarkan untuk meraih kenikmatan Surga tersebut (Taisirul Karimir Rahman, 930). Allah ﷻ berfirman setelah menyebutkan berbagai kenikmatan Surga;
خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِيْ ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَ.
”Laknya adalah kesturi, untuk yang demikian itulah hendaknya manusia berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin : 26)
Seorang mukmin yang rindu untuk bertemu dengan Allah ﷻ dan melihat Wajah Allah ﷻ yang Maha Mulia, maka hendaknya ia mengisi sisa usianya dengan memperbanyak ibadah hanya untuk Allah ﷻ semata. Allah ﷻ berfirman;
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْ لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.
“Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amalan shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi : 110)
*****
MARAJI’
1.Al-Qur’anul Karim.
2.Aisarut Tafasir li Kalamil ‘Aliyil Kabir, Abu Bakar Jabir Al-Jazairi.
3.Al-Jami’ush Shahih, Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah Al-Bukhari.
4.Al-Jami’ush Shahih Sunanut Tirmidzi, Muhammad bin Isa At-Tirmidzi.
5.At-Tafsirul Muyassar, Shalih bin Muhammad Alu Asy-Syaikh.
6.Hadil Arwah ila Biladil Afrah, Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Abi Bakar Ad-Dimasyqi Al-Qayyim Al-Jauziyah.
7.Musnad Ahmad, Ahmad bin Muhammad bin Hambal Asy-Syaibani.
8.Shahih Ibni Hibban, Ibnu Hibban.
9.Shahih Muslim, Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi.
10.Shahihul Ahaditsil Qudsiyyah, Ishamuddin bin Sayyid bin ’Abdu Rabbin Nabi Ash-Shababithi.
11.Shahihul Jami’ish Shaghir, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
12.Shahihut Targhib wat Tarhib, Muhammad Nashiruddin Al-Albani.
13.Sunan An-Nasa’i, Ahmad bin Syu’aib An-Nasa’i.
14.Tafsirul Baghawi: Ma’alimut Tanzil, Abu Muhammad Husain bin Mas’ud Al-Baghawi.
15.Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, Abul Fida’ Isma’il bin ‘Amr bin Katsir Ad-Dimasyqi.
16.Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ’Amma, Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.
17.Taisirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di.

Kategori : Mutiara Nasihat