KEDAHSYATAN SETELAH KEMATIAN (Bag. 3)

  • 27 Feb 2020 08:21:47
Image

Penulis: Ustadz Dr. Irfan Yuhadi, M.S.I
9. MIZAN
Kemudian amal perbuatan manusia ditimbang dengan timbangan yang hakiki dan sangat teliti. Allah ﷻ berfirman;
وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذِ نِالْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ. وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْآ أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوْا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُوْنَ.
“Timbangan pada hari itu adalah kebenaran. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Sedangkan barangsiapa yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf : 8)
Mizan pada Hari Kiamat jumlahnya hanya satu dan memiliki dua daun timbangan. Adapun yang ditimbang pada Hari Kiamat adalah; amalan, orang yang beramal dan kitab catatan amal. Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:
a. Yang ditimbang adalah amalan
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ;
أَثْقَلُ شَيْءٌ فِي الْمِيْزَانِ اَلْخُلُقُ الْحَسَنُ
”Sesuatu yang lebih berat di timbangan adalah akhlak yang baik.” (HR. Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam As-Silsilah Ash-Shahihah Juz 2 : 876)
b. Yang ditimbang adalah orang yang beramal
Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda;
إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَزِنُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ وَقَالَ اِقْرَؤُوْا إِنْ شِئْتُمْ {فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا}.
“Sesungguhnya pada Hari Kiamat akan didatangkan seorang yang besar dan gemuk, namun di sisi Allah ﷻ tidak mencapai berat sayap nyamuk.” Rasulullah ﷺ bersabda; “Jika kalian bersedia bacalah (ayat), “Kami tidak mengadakan perhitungan (amal) bagi mereka pada Hari Kiamat. (QS. Al-Kahfi : 105)” ( Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 4 : 4452 dan Muslim Juz 4 : 2785)
c. Yang ditimbang adalah kitab catatan amal
Sebagaimana disebutkan dalam hadits bithaqah (kartu) yang diriwayatkan dari ’Abdullah bin ’Amru bin Al-’Ash رضي الله عنهما ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
فَتُوْضَعُ السِّجِلَّاتُ فِيْ كَفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِيْ كَفَّةٍ
“Kemudian diletakkan catatan-catatan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu tersebut pada daun timbangan (yang lainnya).” (HR. Tirmidzi Juz 5 : 2639. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 1776)
10. HAUDH
Kemudian orang-orang yang beriman akan mendatangi telaga. Barangsiapa yang meminumnya, niscaya ia tidak akan merasa kehausan selama-lamanya. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru رضي الله عنهما, Nabi ﷺ bersabda;
حَوْضِيْ مَسِيْرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ وَرِيْحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ وَكِيْزَانُهُ كَنُجُوْمِ السَّمَاءِ مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا
“Telagaku seluas perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih daripada susu, baunya lebih harum daripada minyak kesturi, dan gayungnya seperti (banyaknya dan indahnya) bintang-bintang di langit. Barangsiapa yang meminumnya, niscaya ia tidak akan merasa kehausan selama-lamanya.” (HR. Bukhari Juz 5 : 6208, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 4 : 2292)
Setiap Nabi memiliki telaga, namun telaga Nabi Muhammad ﷺ adalah telaga yang paling besar, paling mulia dan paling banyak pengunjungnya. Diriwayatkan dari Samurah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهُوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً وَإِنِّيْ أَرْجُوْ أَنْ أَكُوْنَ أَكْثَرُهُمْ وَارِدَةً.
“Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga. Sungguh mereka akan berbangga siapakah di antara mereka yang paling banyak pengunjungnya. Aku berharap (telaga)ku yang paling banyak pengunjungnya.” ( HR. Tirmidzi Juz 4 : 2443. Hadits derajatnya adalah Hasan atau Shahih menurut Syaikh Al-Albani 5 dalam As-Silsilah Ash-Shahihah Juz 4 : 1589)
Telaga Nabi Muhammad ﷺ akan dikunjungi oleh banyak pengunjung hingga berdesak-desakan. Sebagaimana diriwayatkan dari ‘Irbadh (bin Sariyah) رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda;
لَتَزْدَحِمَنَّ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى الْحَوْضِ اِزْدِحَامَ إِبِلٍ وَرَدَتْ لِخَمْسٍ
“Sungguh umat ini akan berdesak-desakan di telaga(ku seperti) berdesak-desakannya unta yang datang (di hari yang) kelima (setelah empat hari unta tersebut tidak diberi minum).” (HR. Thabrani. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 5068)
Ada beberapa orang yang tertolak dari telaga Nabi ﷺ, antara lain :
a. Orang yang murtad
Nabi ﷺ bersabda;
يُرَدُّ عَلَى الْحَوْضِ رِجَالٌ مِنْ أَصْحَابِيْ فَيُحَلَّؤُوْنَ عَنْهُ فَأَقُوْلُ يَا رَبِّ أَصْحَابِيْ فَيَقُوْلُ إِنَّكَ لَا عِلْمَ لَكَ بِمَا أَحْدَثُوْا بَعْدَكَ إِنَّهُمْ اِرْتَدُّوْا عَلَى أَدْبَارِهِمُ الْقَهْقَرَى
“Tertolak dari telagaku beberapa orang dari Sahabatku, mereka terhalangi darinya. Aku mengatakan, “Wahai Rabb-ku (mereka adalah) para Sahabatku.” Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui terhadap apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah kembali murtad.” (HR. Thabrani. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 5068)
Berkata Qabishah رضي الله عنه;
“Mereka adalah orang-orang yang murtad pada masa Abu Bakar رضي الله عنه, maka Abu Bakar رضي الله عنه memerangi mereka.” (Shahihul Bukhari, 3/3263)
b. Orang yang berbuat bid’ah (mukaffirah)
Menurut Imam An-Nawawi رحمه الله mereka adalah orang-orang yang yang membuat perkara baru dalam agama dari kalangan orang-orang khawarij dan orang-orang Rafidhah.
c. Orang munafik (i’tiqadi)
11. UJIAN KEIMANAN DI MAHSYAR
Manusia akan mengikuti sesembahannya. Orang-orang kafir akan mengikuti tuhan-tuhan yang mereka sembah, lalu tuhan-tuhan tersebut mengantarkan mereka ke Neraka secara berbondong-bondong. Sehingga tidak ada yang tersisa di Mahsyar kecuali orang-orang yang beriman dan orang-orang munafik. Allah ﷻ menyingkapkan betis-Nya, maka bersujudlah orang-orang yang beriman, namun orang-orang munafik tidak dapat bersujud. Allah ﷻ berfirman;
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ. خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوْا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُوْدِ وَهُمْ سَالِمُوْنَ.
”Pada hari betis (Allah ﷻ yang Mulia disingkapkan, yang tidak serupa dengan apapun dan para makhluk melihat-Nya sebagai kemuliaan serta keagungan Allah ﷻ), (Taisirul Karimir Rahman, 894) dan mereka diseru untuk bersujud (sebagai ujian keimanan mereka), maka mereka tidak mampu (Aisarut Tafasir, 5/416). (Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah (dan) mereka diliputi kehinaan. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sehat.” (QS. Al-Qalam : 42 - 43)
Diriwayatkan dari Abu Sa’id رضي الله عنه ia berkata, aku mendengar Nabi ﷺ bersabda;
يَكْشِفُ رَبُّنَا عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ وَمُؤْمِنَةٍ وَيَبْقَى كُلَّ مَنْ كَانَ يَسْجُدُ فِي الدُّنْيَا رِيَاءً وَسُمْعَةً فَيَذْهَبُ لِيَسْجُدَ فَيَعُوْدُ ظَهْرُهُ طَبْقًا وَاحِدًا.
“(Ketika) Rabb kami menyingkapkan betis-Nya, maka bersujudlah setiap mukmin dan mukminah dan tetap (tidak dapat bersujud) orang-orang (munafik) yang bersujud di dunia karena riya’ dan sum’ah. Ia berupaya untuk bersujud, namun punggungnya kembali menjadi satu (tidak dapat bersujud).” (HR. Bukhari Juz 4 : 4635, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 1 : 183)
Orang-orang munafik tidak mampu bersujud kepada Allah ﷻ ketika di mahsyar, kerena mereka dahulu ketika di dunia diseru untuk bersujud kepada Allah ﷻ dengan seruan adzan namun mereka tidak mendatanginya dan mereka meninggalkan shalat berjama’ah. Berkata Sa’id bin Jubair رحمه الله; (Beliau adalah seorang Tabi’in di Kufah yang wafat tahun 95 H)
كَانُوْا يَسْمَعُوْنَ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ فَلَا يُجِيْبُوْنَ.
“Mereka mendengar (seruan adzan), “Marilah menuju keberuntungan,” namun mereka tidak menjawab (dan tidak mendatangi seruan tersebut).” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 18/109)
Berkata pula Ka’ab Al-Ahbar رحمه الله;
مَا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ إِلَّا فِي الَّذِيْنَ يَتَخَلَّفُوْنَ عَنِ الْجَمَاعَاتِ.
“Tidaklah ayat ini diturunkan, kecuali berkenaan dengan orang-orang yang meninggalkan (shalat-shalat) berjama’ah.” (Tafsirul Baghawi, 4/455)
12. SHIRATH
Kemudian dibentangkan shirath di atas Neraka Jahannam untuk menuju ke Surga. Shirath tersebut lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. (HR. Muslim Juz 1 : 183) Nabi yang pertama kali melewati shirath adalah Nabi Muhammad ﷺ dan umat yang pertama kali melewati shirath adalah umat Muhammad ﷺ. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda;
يُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ فَأَكُوْنُ أَنَا وَأُمَّتِيْ أَوَّلَ مَنْ يُجِيْزُهَا وَلَا يَتَكَلَّمَ يَوْمَئِذٍ إِلَّا الرُّسُلُ وَدَعْوَى الرُّسُلُ يَوْمَئِذٍ اَللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَفِيْ جَهَنَّمَ كَلَالِيْبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ هَلْ رَأَيْتُمُ السَّعْدَانَ قَالُوْا نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَعْلَمُ مَا قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ
“Dibentangkan shirath di antara dua tepi Neraka Jahannam. Dijadikan aku dan umatku adalah yang pertama kali melewatinya. Tidak ada yang berbicara pada waktu itu, kecuali para Rasul. Doa para Rasul ketika itu adalah, “Ya Allah, selamatkan, selamatkan.” Di dalam Neraka Jahannam (keluar) pengait-pengait seperti duri Sa’dan. Apakah kalian tahu Sa’dan?” Para Sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh (pengait-pengait) tersebut seperti duri pohon sa’dan, namun tidak ada yang mengetahui besarnya selain Allah ﷻ.” (HR. Bukhari Juz 6 : 7000, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 1 : 182)
Orang-orang yang beriman akan diberikan cahaya di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Adapun orang-orang munafik cahaya mereka dipadamkan. Ketika orang-orang yang beriman melihat cahaya orang-orang munafik padam, maka mereka mengatakan;
رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-Tahrim : 8)
Kondisi orang-orang yang melewati shirath sesuai dengan kadar amalan mereka ketika di dunia. Sebagaimana diriwayatkan pula dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
فَيَمُرُّ الْمُؤْمِنُوْنَ كَطَرْفِ الْعَيْنِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيْحِ وَكَالطَّيْرِ وَكَأَجَاوِيْدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ فَنَاجٍ مُسْلِمٌ وَمَخْدُوْشٌ مُرْسَلٌ وَمَكْدُوْسٌ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ
“Orang-orang yang beriman (yang melewati shirath) ada yang; sekejap mata, seperti kilat, seperti (hembusan) angin, seperti burung (terbang), seperti kuda yang berlari kencang, seperti hewan tunggangan. (1) Selamatlah orang yang diselamatkan, (2) ada yang terkoyak tetapi selamat dan (3) ada pula yang terjatuh ke dalam Neraka Jahannam.” (HR. Muslim Juz 1 : 183)
13. NERAKA JAHANNAM
Neraka Jahannam adalah tempat yang penuh dengan siksaan dan penderitaan. Bunga api Neraka Jahannam sebesar dan setinggi istana. Allah ﷻ berfirman;
إِنَّهَا تَرْمِيْ بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ. كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌ.
”Sesungguhnya Neraka Jahannam melontarkan bunga api (sebesar dan setinggi) istana. Seolah-olah iring-iringan unta yang kuning.” (QS. Al-Mursalat : 32 - 33)
Apinya lebih panas 70 kali lipat dari api dunia. (Taisirul Karimir Rahman, 949) Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً قَالَ فُضِّلَتْ عَلَيْهِنَّ بِتِسْعَةٍ وَسِتِّيْنَ جُزْءًا كُلُّهُنَّ مِثْلُ حَرِّهَا.
“Api kalian (di dunia hanyalah) satu bagian dari 70 bagian api Jahannam.” Salah seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya api dunia sudah cukup panas.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Api Jahannam lebih panas daripada api dunia dengan 69 bagian, yang masing-masing bagiannya memiliki panas yang sama.” (HR. Bukhari Juz 3 : 3092, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 4 : 2843)
Dasar Neraka sangat dalam sekali, seandainya sesuatu dilemparkan di dalamnya niscaya 70 tahun baru mencapai di dasarnya. Tubuh orang-orang kafir di dalam Neraka akan menjadi besar agar merasakan pedihnya siksaan. Jarak antara kedua pundak mereka adalah sejauh perjalanan 3 hari, gigi gerahang mereka sebesar gunung Uhud, kulit mereka menjadi tebal, setiap kali kulit tersebut hangus diganti dengan kulit yang lain agar mereka merasakan siksaan. Siksa Neraka yang paling ringan adalah seorang yang dipakaikan padanya dua sandal yang karena dua sandal tersebut mendidihlah otaknya, -wal’iyadzubillah.- Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُوْ طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِيْ مِنْهُمَا دِمَاغُهُ.
“Penduduk Neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, dipakaikan padanya dua sandal yang karena dua sandal tersebut mendidihlah otaknya.” (HR. Muslim Juz 1 : 212)
14. QANTHARAH
Orang-orang yang beriman tertahan di qantharah sebelum masuk mereka ke dalam Surga. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُوْنَ مِنَ النَّارِ فَيُحْبَسُوْنَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيُقْتَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضِ مَظَالِمَ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا هَذِّبُوْا وَنُقُّوْا أُذِنَ لَهُمْ فِيْ دُخُوْلِ الْجَنَّةِ فَوَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِيْ الدُّنْيَا.
“Orang-orang beriman yang selamat dari Neraka, mereka ditahan di atas qantharah (jembatan) antara Surga dan Neraka. Di antara mereka ada yang dipotong kebaikannya untuk (diberikan) kepada orang lain karena kezhaliman yang pernah mereka lakukan ketika di dunia. Setelah mereka bersih dan suci (dari semua bentuk kezhaliman), mereka diizinkan (untuk) masuk ke dalam Surga. Demi (Allah ﷻ) yang jiwa Muhammad ﷺ berada di Tangan-Nya, sungguh salah seorang dari mereka lebih mengetahui rumahnya di Surga daripada (ia mengetahui) rumahnya ketika di dunia.” (HR. Bukhari Juz 5 : 6170)
15. SURGA
Surga merupakan tempat yang penuh dengan kenikmatan. Surga memiliki 8 pintu. Di surga terdapat 100 tingkatan, tingkatan yang paling tinggi adalah Firdaus. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةُ دَرَجَةٍ أَعْدَهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوْهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أَرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تُفَجِّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ.
“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat seratus tingkatan yang disediakan oleh Allah ﷻ untuk orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Jarak antara dua tingkatan adalah seperti jarak antara langit dan bumi. Jika kalian meminta kepada Allah ﷻ, maka mintalah Surga Firdaus. Karena sesungguhnya Surga Firdaus adalah surga yang paling tengah dan yang paling tinggi (tingkatannya). Di atasnya adalah ‘Arsy (Allah ﷻ) Ar-Rahman dan dari sanalah terpacar sungai-sungai Surga.” (HR. Bukhari Juz 3 : 2637)
Penghuni Surga tidak buang air kecil dan tidak buang air besar serta juga tidak kotor. Orang yang paling rendah tingkatannya adalah orang yang berangan-angan sesuatu lalu diberi 10 kali lipatnya. Para pelayan Surga adalah anak-anak muda yang tetap muda bagaikan mutiara yang bertaburan (QS. Al-Insan : 19). Nikmat Surga yang paling agung adalah melihat Wajah Allah ﷻ. Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali رضي الله عنه, ia berkata;
كُنَّا جُلُوْسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةِ الْبَدْرِ فَقَالَ اِنَّكُمْ سَتُعْرَضُوْنَ عَلَى رَبِّكُمْ فَتَرْوْنَهُ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا الْقَمَرَ لَا تُضَامُّوْنَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لَا تُغْلَبُوْا عَلَى صَلَاةٍ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَصَلَاةٍ قَبْلَ غُرُوْبِهَا فَافْعَلُوْا
“Kami duduk di sisi Nabi ﷺ lalu beliau melihat bulan (yang pada waktu itu sedang) purnama. Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat kepada Rabb kalian. Kalian akan melihatnya sebagaimana (cara) kalian melihat bulan ini. Kalian tidak berdesak-desakan ketika melihat-Nya. Maka barangsiapa yang mampu untuk tidak terlewatkan (melakukan) shalat (Shubuh) sebelum terbitnya matahari dan shalat (Ashar) sebelum terbenam matahari, maka lakukanlah.” (HR. Bukhari Juz 6 : 6997 dan Tirmidzi Juz 4 : 2551, lafazh ini miliknya. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 2306)
16. PENYEMBELIHAN KEMATIAN
Setelah penghuni Surga semuanya telah masuk ke dalam Surga dan penghuni Neraka semuanya telah masuk ke dalam Neraka, maka kematian akan disembelih. Sehingga penduduk Surga kekal tinggal di dalam Surga selama-lamanya dan penduduk Neraka kekal di dalam Neraka selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Hal ini diriwayatkan dari Abu Sa’id رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
يُجَاءُ بِالْمَوْتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ كَبْشٌ أَمْلَحُ فَيُوْقَفُ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيُقَالُ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا فَيَشْرَئِبُّوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ وَيَقُوْلُوْنَ نَعَمْ هَذَا الْمَوْتُ قَالَ وَيُقَالُ يَا أَهْلَ النَّارِ هَلْ تَعْرِفُوْنَ هَذَا قَالَ فَيَشْرَئِبُّوْنَ وَيَنْظُرُوْنَ وَيَقُوْلُوْنَ نَعَمْ هَذَا الْمَوْتُ قَالَ فَيُؤْمَرُ بِهِ فَيُذْبَحُ قَالَ ثُمَّ يُقَالُ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُوْدٌ فَلَا مَوْتَ وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُوْدٌ فَلَا مَوْتَ قَالَ ثُمَّ قَرَأَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِيْ غَفْلَةٍ وَّهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ} وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الدُّنْيَا.
”Kematian akan didatangkan (pada Hari Kiamat) dalam bentuk domba yang berwarna putih bercampur hitam, yang diletakkan di antara Surga dan Neraka. Kemudian dikatakan, “Wahai penduduk Surga, apakah kalian mengetahui ini?” Mereka mendongakkan kepalanya dan melihat(nya). Lalu mereka menjawab, “Ya, itu adalah kematian.” Kemudian dikatakan, “Wahai penduduk Neraka, apakah kalian mengetahui ini?” Mereka mendongakkan kepalanya dan melihat(nya). Lalu mereka menjawab, “Ya, itu adalah kematian.” Kemudian diperintahkan (agar) domba tersebut disembelih. Lalu dikatakan, “Wahai penduduk Surga kekallah (kalian), tidak ada lagi kematian. Wahai penduduk Neraka kakallah (kalian), tidak ada lagi kematian.” Kemudian Rasulullah ﷺ membaca ayat, ”Berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika perkara telah diputuskan. (Sedangkan) mereka dalam kelalaian dan mereka tidak beriman.” (QS. Maryam : 39) Beliau berisyarat dengan tangannya ke dunia.” (HR. Muslim Juz 4 : 2849)
Berkata ‘Abdullah (bin Mas’ud) رضي الله عنه; (Beliau adalah seorang Sahabat yang wafat tahun 32 H di Madinah)
لَوْ عَلِمَ أَهْلُ النَّارِ أَنَّهُمْ يَلْبَثُوْنَ فِي النَّارِ عَدَدَ حَصَى الدُّنْيَا لَفَرِحُوْا، وَلَوْ عَلِمَ أَهْلُ الْجَنَّةِ أَنَّهُمْ يَلْبَثُوْنَ فِي الْجَنَّةِ عَدَدَ حَصَى الدُّنْيَا لَحَزِنُوْا.
“Seandainya penghuni Neraka mengetahui bahwa sesungguhnya mereka akan tinggal di dalam Neraka (selama) banyaknya kerikil di dunia, niscaya sungguh mereka akan bergembira. Seandainya penghuni Surga mengetahui bahwa sesungguhnya mereka akan tinggal di dalam Surga (selama) banyaknya kerikil di dunia, niscaya sungguh mereka akan bersedih.” (Tafsirul Baghawi, 4/540)
KHATIMAH
Demikianlah kedahsyatan kehidupan setelah kematian berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Marilah kita gunakan sisa usia kita dengan berbekal untuk menghadapi kematian yang tekadang datang secara tiba-tiba. Marilah kita ikuti petunjuk Rasulullah ﷺ dalam beribadah kepada Allah ﷻ dan dalam bermuamalah dengan sesama manusia. Selektiflah dalam mencari teman akrab, karena agama seseorang tergantung kepada temannya. Marilah kita mempelajari dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan petunjuk kebenaran yang akan mengantarkan manusia menuju Surga yang penuh dengan kenikmatan. Optimalkan kehidupan dunia ini sebagai ladang untuk beramal sebelum datangnya penyesalan. Allah ﷻ berfirman;
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا. يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِيْ لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا. لَقَدْ أَضَلَّنِيْ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِيْ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُوْلًا.
“(Ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim menggigit kedua tangannya dan berkata, “Seandainya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai celaka aku, seandainya (dahulu) aku tidak menjadikan fulan sebagai teman akrab(ku). Sungguh ia telah menyesatkanku dari Al-Qur’an setelah (Al-Qur’an) tersebut datang kepadaku. Dan setan akan membiarkan (tidak mau menolong) manusia.” (QS. Al-Furqan : 27 - 29)
Akhirnya kita memohon kepada Allah ﷻ, semoga Allah ﷻ menjadikan akhir kehidupan kita di dunia dengan kematian yang husnul khatimah dan menjauhkan kita dari kematian yang su’ul khatimah. Kita juga memohon kepada Allah ﷻ, semoga Allah ﷻ menjadikan kita istiqamah di atas Islam dan Sunnah hingga datangnya ajal kematian.
اَللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ وَأَحْيِنَا مُسْلِمِيْنَ وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِيْنَ غَيْرَ خَزَيَا وَلَا مَفْتُوْنِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَنَعُوْذُبِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِيْ غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الْإِيْمَانِ وَاجَعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِيْنَ.
Ya Allah, wafatkanlah kami (dalam keadaan sebagai seorang) muslim, hidupkanlah kami (dalam keadaan sebagai seorang) muslim, dan pertemukanlah kami dengan orang-orang shalih tanpa terhina dan tanpa terfitnah. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu Surga dan hal-hal yang dapat mendekatkan kepadanya (baik berupa) ucapan maupun perbuatan. Kami berlindung kepada-Mu dari Neraka dan hal-hal yang dapat mendekatkan kepadanya (baik berupa) ucapan maupun perbuatan. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu kenikmatan memandang wajah-Mu dan kerinduan untuk bertemu dengan-Mu tanpa adanya kesulitan yang membahayakan dan tanpa adanya fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan keimanan dan jadikanlah kami (termasuk) orang-orang yang mendapatkan petunjuk (dan menjadi) penyampai petunjuk (bagi orang lain).
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ.
Semoga shalawat (dan salam) senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya dan para Sahabat semuanya. Penutup doa kami, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Kategori : Mutiara Nasihat