KEDAHSYATAN SETELAH KEMATIAN (Bag. 1)

  • 06 Feb 2020 07:47:49
Image

Penulis: Ustadz Dr. Irfan Yuhadi, M.S.I
Tabiat manusia adalah benci terhadap kematian dan berusaha lari darinya. Sebagaimana diriwayatkan dari Mahmud bin Labid رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda;
إِثْنَتَانِ يَكْرَهُهُمَا ابْنُ آدَمَ اَلْمَوْتُ وَالْمَوْتُ خَيْرٌ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْفِتْنَةِ وَيَكْرَهُ قِلَّةُ الْمَالِ وَقِلَّةُ الْمَالِ أَقَلُّ لِلْحِسَابِ.
“Dua hal yang dibenci oleh anak Adam; (1) Kematian, (padahal) kematian lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah. (2) Sedikitnya harta, (padahal) sedikitnya harta (akan menjadikan) sedikitnya hisab (pada Hari Kiamat).” (HR. Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 139)
Bagaimana pun cara manusia untuk menghindari kematian, pada saatnya kematian pasti akan datang. Allah ﷻ berfirman;
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ.
”Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya, maka sungguh kematian tersebut akan mendatangi kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah ﷻ) yang mengetahui perkara ghaib dan perkara yang nyata, lalu Dia akan memberitahukan kepada kalian (tentang) apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah : 8)
Setelah kematian manusia akan memasuki alam kubur dan akhirat. Alam kubur merupakan persinggahan menuju akhirat. Barangsiapa yang selamat di alam kubur niscaya kehidupan setelahnya akan lebih mudah. Namun sebaliknya, barangsiapa yang tidak selamat di alam kubur niscaya kehidupan setelahnya akan lebih sulit. Diriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنه ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ. فَإِنْ نَجَا مِنْهُ، فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ. وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ، فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ
“Sesungguhnya (alam) kubur merupakan tempat pertama (dari kehidupan) akhirat. Barangsiapa yang selamat darinya, maka (kehidupan) setelahnya akan lebih mudah. Namun barangsiapa yang tidak selamat darinya, maka (kehidupan) setelahnya akan lebih sulit.” (HR. Tirmidzi Juz 4 : 2308, Hakim Juz 1 : 1373 dan Ibnu Majah : 4267. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih Ibni Majah Juz 10 : 3442)
Berikut ini adalah fase kehidupan manusia setelah kematian hingga berakhir di Surga atau di Neraka.
1. RUH DIBAWA KE LANGIT
Setelah ruh manusia keluar dari jasadnya, maka ruh tersebut dibawa oleh para Malaikat ke langit. Malaikat memohon agar pintu-pintu langit dibuka untuk ruh orang yang beriman, dan pintu-pintu langit tidak akan dibuka untuk ruh orang kafir. Allah ﷻ berfirman;
إِنَّ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوْا عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَآءِ وَلَا يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِيْنَ.
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan di masukkan ke dalam Surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS. Al-A’raf : 40)
Allah ﷻ memerintahkan agar ruh orang yang beriman dikembalikan ke bumi setelah kitab amalannya ditulis di Iliyyin, di Surga yang paling tinggi (Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, 103). Sedangkan ruh orang kafir akan dihempaskan dengan kuat dari langit setelah kitab amalannya ditulis di Sijjin, di lapisan bumi yang paling rendah (Tafsirul Qur’anil Karim: Juz ‘Amma, 98). Allah ﷻ berfirman;
وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَآءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِيْ بِهِ الرِّيْحُ فِيْ مَكَانٍ سَحِيْقٍ.
“Barangsiapa yang menyekutukan Allah ﷻ, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh.” (QS. Al-Hajj : 31)
2. HIMPITAN KUBUR
Di dalam kubur terdapat himpitan kubur. Tidak ada seorang pun yang dapat selamat dari himpitan liang kubur, meskipun anak kecil sekalipun. Diriwayatkan dari Abu Ayyub رضي الله عنه, Rasululah ﷺ bersabda;
لَوْ أَفْلَتَ أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَأَفْلَتَ هَذَا الصَّبِيُّ.
“Seandainya ada seseorang yang selamat dari himpitan kubur, niscaya anak ini akan selamat (dari himpitan kubur).” (Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 5238)
Bahkan Sa’ad bin Muadz رضي الله عنه seorang Sahabat yang kematiannya pada tahun 5 H –karena luka akibat anak panah yang didapatkannya dalam perang Khandaq- (Ikhtar Isma Mauludika, Muhammad ‘Abdurrahim) menggoncangkan Arsy Allah ﷻ, beliau juga merasakan himpitan kubur. Sebagaimana diriwayatkan dari Jabir رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
اِهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَنِ لِمَوْتِ سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ.
“Arsy Ar-Rahman bergoncang karena kematian Sa’ad bin Muadz رضي الله عنه.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 3 : 3592, Muslim Juz 4 : 2466, Ahmad dan Ibnu Majah : 158. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 2521)
Diriwayatkan pula dari ‘Aisyah رضي الله عنها ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;
إِنَّ لِلْقَبْرِ ضَغْطَةً لَوْ كَانَ أَحَدٌ نَاجِيًا مِنْهَا نَجَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ.
“Sesungguhnya kuburan memiliki himpitan. Seandainya ada seorang yang dapat selamat dari (himpitan kubur) tersebut, niscaya selamatlah Sa’ad bin Mu’adz رضي الله عنه.” (HR. Ahmad. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه اللهه dalam Shahihul Jami’ : 2180)
Himpitan kubur bukanlah bagian dari siksa kubur. Sebagaimana penjelasana dari Imam Adz-Dzahabi رحمه الله;
“Himpitan kubur bukan bagian dari siksa kubur, tetapi merupakan sesuatu yang harus ditemui seorang muslim seperti rasa sakit yang ia rasakan ketika anaknya atau keluarganya meninggal ketika di dunia. Rasa sakit tersebut akan dirasakan oleh seorang hamba, dan hal tersebut bukan bagian dari siksa kubur dan bukan pula bagian dari siksa Neraka Jahannam. Namun untuk hamba yang bertaqwa (himpitan tersebut) akan diringankan oleh Allah ﷻ dalam sebagiannya atau seluruhnya.” (Siyar A’lamin Nubala’, 1/ 290, dengan diringkas)
3. FITNAH KUBUR
Fitnah kubur adalah pertanyaan yang dilontarkan oleh Malaikat Munkar dan Nakir kepada mayit tentang Rabb, Nabi dan agama. Fitnah kubur ini akan diberikan kepada semua orang yang telah mukallaf, baik yang mukmin maupun yang kafir. Diriwayatkan dari ‘Utsman bin Affan رضي الله عنه ia berkata, Nabi ﷺ bersabda;
اِسْتَغْفِرُوْا لِأَخِيْكُمْ وَسَلُوْا لَهُ بِالتَّثْبِيْتِ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ.
“Mohonkanlah ampunan untuk saudara kalian dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena ia sekarang sedang ditanya (oleh Malaikat).” (HR. Abu Dawud : 3221, dengan sanad yang shahih)
Allah ﷻ akan meneguhkan iman orang-orang yang beriman di dalam kubur mereka dengan memberikan kemampuan untuk menjawab fitnah kubur. Allah ﷻ berfirman;
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِيْنَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَآءُ.
”Allah ﷻ meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Allah ﷻ menyesatkan orang-orang yang zhalim dan Allah ﷻ akan melakukan apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim : 27)
Ada beberapa orang yang tidak mendapatkan fitnah kubur, antara lain :
a. Para Nabi
Karena para adalah orang-orang yang dijadikan objek pertanyaan kepada manusia dan karena para Nabi lebih utama daripada para syuhada’.
b. Para shiddiqun
Shiddiqun adalah orang-orang yang sangat teguh kepercayaannya kepada kebenaran Rasul. Shiddiqun akan diselamatkan dari fitnah kubur, karena para shiddiqun lebih utama daripada para syuhada’. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan dalam firman Allah ﷻ;
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُوْلَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيْقًا.
“Barangsiapa yang mentaati Allah QS. Ibrahim : 27 dan Rasul-(Nya), maka mereka akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah QS. Ibrahim : 27, (yaitu); para Nabi, para shiddiqun, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’ : 69)
c. Para syuhada’
Syuhada’ adalah orang-orang yang meninggal dunia dalam peperangan di jalan Allah ﷻ (mati syahid). Suatu ketika ada salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ;
يَا رَسُوْلَ اللَّهِ مَا بَالُ الْمُؤْمِنِيْنَ يُفْتَنُوْنَ فِيْ قُبُوْرِهِمْ إِلَّا الشَّهِيْدَ قَالَ كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً.
“Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang yang beriman difitnah (ditanya) di dalam kuburnya kecuali orang yang mati syahid?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya sebagai fitnah (ujian baginya).” ( HR. Nasa’i Juz 4 : 2053. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 4483.)
d. Para murabithun
Murabithun adalah orang-orang berjaga-jaga diperbatasan wilayah pertempuran, meskipun mereka tidak mati syahid. Diriwayatkan dari Salman رضي الله عنه ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda;
رِبَاطُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَيْرٌ مِنْ صِيَامِ شَهْرٍ وَقِيَامِهِ وَإِنْ مَاتَ جَرَى عَلَيْهِ عَمَلُهُ الَّذِيْ كَانَ يَعْمَلُهُ وَأُجْرِيَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ وَأَمِنَ الْفَتَّانَ
“Berjaga-jaga di perbatasan (wilayah pertempuran) sehari semalam lebih baik daripada puasa sebulan (penuh) dengan melakukan (shalat) pada malamnya. Jika ia meninggal dunia, maka pahala amalan shalih yang biasa ia lakukan akan terus mengalir untuknya, rizkinya senantiasa diberikan kepadanya dan (ia akan) diamankan dari fitnah (kubur).” (HR. Muslim Juz 3 : 1913)
e. Anak-anak dan orang gila
Karena mereka bukan mukallaf (tidak terkena beban syari’at).

Kategori : Mutiara Nasihat