‘Idul Fitri

  • 13 Mei 2019 09:10:44
Image

Penulis: Ustadz Dr. Irfan Yuhadi, M.S.I

MUQADDIMAH

Dari Anas رضي الله عنه ia berkata;

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ, وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيهِمَا. فَقَالَ : مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قاَلُوْا : كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا : يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ.

“Rasulullah ﷺ tiba di Madinah dan mereka (penduduk Madinah) mempunyai 2(dua) hari untuk bermain-main. Maka beliau bersabda, “2 (dua) hari ini hari apa?” Mereka menjawab, “Kami biasa bermain-main didalamnya pada masa jahiliyah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian 2 (dua) hari tersebut dengan 2 (dua) hari yang lebih baik, (yaitu) ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.”

(HR. Abu Dawud : 1134, lafazh ini miliknya dan Nasa'i : 1556)

Dahulu pada masa jahiliyah orang-orang Arab memiliki 2 (dua) hari raya yang biasa diperingati pada masa jahiliyah, yaitu hari Nairuz dan hari Mahrajan. Nairuz atau Nauruz dalam bahasa Persia artinya hari baru, maksudnya perayaan tahun baru. Adapun Mahrajan adalah gabungan dari kata ‘Mahr’ yang artinya matahari dan ‘Jan’ yang artinya kehidupan atau ruh. Dan hari Mahrajan adalah hari perayaan pada pertengahan musim gugur, dimana udara tidak panas dan tidak dingin. Atau juga merupakan istilah bagi pesta yang diadakan untuk hari bahagia.

Kemudian setelah datangnya Islam, maka 2 (dua) hari raya tersebut digantikan dengan 2 (dua) hari raya yang lebih baik yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adh-ha.

SHALAT ‘IED

Hukum Shalat ‘Ied

Hukum Shalat ‘Ied adalah Fardhu ‘ain. Ini adalah salah satu dari pendapatnya Imam Syafi’i dan salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Imam Ahmad. Ini juga pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Asy-Syaukani, Syaikh Al-Albani رحمه الله, pendapat ini pula yang dipilih Syaikh Abu Malik Kamal حَفِظَهُ اللهُ. Diantara dalil yang menunjukkan akan wajibnya Shalat ‘Ied adalah bahwa Nabi ﷺ terus menerus mengerjakan 2 (dua) Shalat ‘Ied ini dan tidak pernah meninggalkannya sekalipun. Beliau juga memerintahkan manusia untuk keluar mengerjakannya, menyuruh wanita-wanita yang merdeka, gadis-gadis pingitan, dan wanita haidh untuk ikut menghadirinya. Ummu Athiyyah رضي الله عنها ia berkata;

أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الْعَوَاتِقَ, وَالْحُيَّضَ فِي الْعِيدَيْنِ; يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ, وَيَعْتَزِلُ الْحُيَّضُ الْمُصَلَّى.

“Kami diperintahkan mengajak keluar gadis-gadis dan wanita-wanita haidh pada kedua Hari Raya untuk menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin, wanita-wanita yang haidh itu terpisah dari tempat shalat.”

(Muttafaq ‘alaih)

Bahkan Rasulullah ﷺ menyuruh wanita yang tidak memiliki jilbab agar pinjam kepada saudarinya. Ketika ada diantara kaum wanita berkata kepada beliau;

إِحْدَاهُنَّ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا جِلْبَابٌ

“Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab (kain menutupi seluruh tubuh wanita dari atas kepala hingga ujung kaki).”

Beliau menjawab;

فَلْتَعْرَهَا أُخْتُهَا مِنْ جَلَابِيْبِهَا

“Hendaknya ada saudarinya yang meminjamkan untuknya.”

(HR. Tirmidzi Juz 2 : 539)

Berkata Syaikh kami Al-Albani رحمه الله dalam Tamamul Minnah hal. 344, (setelah menyebutkan hadits Ummu Athiyah رضي الله عنها);

“Maka perintah yang disebutkan menunjukkan wajib. Jika diwajibkan keluar (ke tanah lapang) berarti diwajibkan shalat lebih utama sebagaimana hal ini jelas, tidak tersembunyi. Maka yang benar hukumnya (adalah) wajib, tidak sekedar sunnah.”

Waktu Shalat ‘Ied

Waktu Shalat ‘Ied adalah dimulai sejak naiknya matahari setinggi tombak (waktu Shalat Dhuha), dan tidak diperbolehkan terlalu mengakhirkannya. Ini adalah pendapat Jumhur ulama’; Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah. Diriwayatkan dari Yazid bin Khumair, ia berkata;

خَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ صَاحِبُ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ النَّاسِ فِيْ يَوْمِ عِيْدِ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى، فَأَنْكَرَ إِبْطَاءُ الْإِمَامِ، فَقَالَ : إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ، وَذَلِكَ حِيْنَ التَّسْبِيْحِ.

“’Abdullah bin Busr رضي الله عنه –seorang sahabat Rasulullah ﷺ- pergi bersama yang lainnya pada hari ‘Idul Fitri atau ‘Idul Adh-ha (keraguan perawi), lalu beliau mengingkari seorang imam yang datang terlambat. Beliau berkata, “Sesungguhnya dahulu kami telah telah selesai melakukan pada saat-saat ini,” yaitu ketika masuk waktu At-Tasbih (yaitu masuknya waktu Shalat Dhuha).”

(HR. Abu Dawud : 1135, lafazh ini miliknya dan Ibnu Majah : 1317)

Sedangkan akhir waktu Shalat ‘Ied menurut kebanyakan (ulama’) adalah hingga zawal (tergelincirnya matahari). Shiddiq Hasan Khan رحمه الله menyatakan dalam Al-Mau’idhatul Hasanah;

”Waktu Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adh-ha adalah setelah tingginya matahari seukuran 1 (satu) tombak sampai tergelincir. Dan terjadi ijma’ (kesepakatan) atas apa yang diambil faidah dari hadits-hadits, sekalipun tidak tegak hujjah dengan semisalnya. Adapun akhir waktunya adalah saat tergelincir matahari.”

Catatan :

· Yang lebih utama adalah melakukan Shalat ‘Idul Adh-ha pada awal waktu, dan untuk Shalat ‘Idul Fitri yang lebih utama adalah agak diakhirkan. Berkata Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi حَفِظَهُ اللهُ dalam Minhajul Muslim 278;

”Waktu Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adh-ha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi 1(satu) tombak sampai tergelincir. Yang paling utama, Shalat ‘Idul Adh-ha dilakukan di awal waktu agar manusia dapat menyembelih hewan-hewan kurban mereka, sedangkan Shalat ‘Idul Fitri (agak) diakhirkan agar manusia dapat mengeluarkan zakat fitrah mereka.”

· Apabila Hari ’Ied tidak diketahui kecuali setelah zawal (matahari telah tergelincir), maka pelaksanaan Shalat ’Ied dialihkan pada keesokan harinya. hal ini berdasarkan hadits dari Abu ’Umair bin Anas, dari paman-pamannya yang merupakan sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ;

أَنَّ رَكْبًا جَاءُوْا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْهَدُوْنَ أَنَّهُمْ رَأَوْا اَلْهِلَالَ بِالْأَمْسِ، فَأَمَرَهُمْ أَنْ يُفْطِرُوْا، وَإِذَا أَصْبَحُوْا [أَنْ] يَغْدُوْا إِلَى مُصَلَّاهُمْ.

“Bahwasanya ada sekelompok pengendara (kuda) datang menemui Nabi ﷺ. Mereka bersaksi bahwa telah melihat hilal kemarin. Oleh karena itu beliau memerintahkan kaum muslimin untuk berbuka. Dan pada pagi harinya mereka keluar menuju tanah lapang (mereka untuk Shalat ‘Ied).” (HR. Abu Dawud : 1157, lafazh ini miliknya, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Irwa’ul Ghalil)

Berkata Ibnul Mundzir رحمه الله;

“Apabila kaum muslimin tidak mengetahui Hari ‘Ied melainkan setelah tergelincirnya matahari, maka hendaklah mereka keluar (ke tanah lapang) di pagi harinya (esok harinya), untuk menunaikan Shalat ‘Ied tersebut.”

Tempat Shalat ‘Ied

Tempat Shalat ‘Ied adalah tanah lapang, bukan dimasjid. Karena Nabi ﷺ keluar ke tanah lapang dan orang-orang setelah beliaupun melakukan hal yang sama. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri رضي الله عنه, ia berkata;

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ

“Rasulullah ﷺ keluar pada hari ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adh-ha ke Mushalla (tanah lapang tempat pelaksanaan shalat). Yang pertama kali beliau kerjakan adalah shalat.”

(HR. Bukhari Juz 1 : 913, lafazh ini miliknya, Muslim Juz 2 : 889)

Catatan :

· Yang paling utama adalah Shalat ‘Ied di Masjidil Haram, karena para imam dari dulu sampai sekarang mengerjakan Shalat ‘Ied di Makkah, di Masjidil Haram. Masjidil Haram lebih utama daripada keluar ke Mushalla (tanah lapang). Ini adalah pendapat Syaikh Abu Malik Kamal حَفِظَهُ اللهُ.

· Shalat ‘Ied diperbolehkan dilaksanakan dimasjid jika ada udzur, seperti hujan dan sebagainya.

Tata Cara Shalat ‘Ied

Shalat ‘Ied dilakukan dengan 2 (dua) raka’at. Dengan melakukan takbiratul ihram pada raka’at pertama dan dilanjutkan dengan 7 (tujuh) kali takbir, lalu membaca Al-Fatihah dan Surat. Pada raka’at kedua, setelah takbir berdiri, maka hendaklah bertakbir sebanyak 5 (lima) kali, dilanjutkan dengan membaca Al-Fatihah dan Surat. Diriwayatkan dari ‘Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda;

اَلتَّكْبِيْرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي الْأُوْلَى وَخَمْسٌ فِي الْآخِرَةِ, وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا

“Takbir dalam Shalat ‘Idul Fitri adalah 7(tujuh) kali pada raka’at pertama dan 5(lima) kali pada raka’at kedua, dan membaca (Al-Fatihah dan Surat adalah) setelah kedua-duanya.” (HR. Abu Dawud : 1151)

Dari ‘Aisyah رضي الله عنها ia berkata;

أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكَبِّرُ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى فِي الْأُوْلَى سَبْعَ تَكْبِيْرَاتٍ، وَفِي الثَّانِيَةِ خَمْسًا. سِوَىْ تَكْبِيْرَتَيِ الرُّكُوْعِ.

“Bahwa Rasulullah ﷺ bertakbir pada Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adh-ha, (yakni) pada raka’at pertama 7 (tujuh) kali takbir. Dan pada raka’at kedua 5 (lima) kali takbir. Selain dari 2 (dua) takbir ruku’.”

(HR. Abu Dawud : 1149 - 1150, lafazh ini miliknya,

Ibnu Majah : 1280)

Disunnahkan untuk membaca Surat Al-A’la dan Surat Al-Ghasyiyah, atau membaca Surat Qaaf dan Surat Al-Qamar. Dari Nu’man bin Basyir رضي الله عنه ia berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْعِيْدَيْنِ وَفِي الْجُمُعَةِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الَأَعْلَى وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيْثُ الْغَاشِيَةِ.

“Bahwa Rasulullah ﷺ pada waktu Shalat 2 (dua) Hari Raya dan Shalat Jum’at membaca ‘Sabbihisma Rabbilakal A’laa’ (Surat Al-A’la) dan ‘Hal Ataka Hadiitsul Ghasyiyah’ (Surat Al-Ghasyiyah).”

(HR. Tirmidzi Juz 2 : 533)

Dari Abu Waqid Al-Laitsi رضي الله عنه;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ بِـ (ق), وَ (اقْتَرَبَتْ).

“Bahwa Nabi ﷺ dalam Shalat ‘Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri biasanya membaca Surat Qaf dan Iqtarabat (Surat Al-Qamar).”

(HR. Muslim : 891)

Catatan :

· Tidak ada adzan dan iqamah pada Shalat ’Ied. Dari Jabir bin ‘Abdillah رضي الله عنهما ia berkata;

شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللًّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيْدِ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ.

“Aku mengikuti Shalat (‘Ied) bersama Rasulullah ﷺ pada hari ‘Ied. Beliau mulai mengerjakan shalat sebelum khutbah tanpa mengumandangkan adzan dan iqamah.”

(HR. Muslim Juz 2 : 885)

Berkata Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Zadul Ma’ad 1/442;

”Apabila Rasulullah ﷺ sampai di mushala (tanah lapang), maka beliau langsung shalat (’Ied) tanpa adzan, iqamah, dan tidak pula mengucapkan, ”Ash-Shalatu Jami’ah.” Adapun yang Sunnah adalah beliau tidak melakukan amalan-amalan yang seperti ini.”

· Pada waktu takbiratul ihram, maka setiap orang mengangkat kedua tangannya sebagaimana di dalam shalat-shalat lainnya. Namun seorang tidak perlu mengangkat kedua tangannya pada saat membaca takbir-takbir tambahan dalam Shalat ’Ied. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri حَفِظَهُ اللهُ. Berkata Syaikh ’Ali bin Hasan bin ’Ali Al-Halabi Al-Atsari حَفِظَهُ اللهُ;

”Tidak ada satupun riwayat yang shahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan mengucapkan takbir-takbir Shalat ’Ied. Akan tetapi Ibnul Qayyim رحمه الله berkata, ”Ibnu Umar رضي الله عنهما -dengan semangat ittiba’nya kepada Rasulullah ﷺ- mengangkat kedua tangannya ketika mengucapkan setiap takbir. (Zadul Ma'ad 1/441). Aku katakan, ”Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi a.”

Berkata Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Tamamul Minnah hal. 348;

”Mengangkat tangan ketika bertakbir dalam Shalat ’Ied (sebagaimana) diriwayatkan dari ’Umar dan putranya رضي الله عنهما, tidaklah riwayat ini dapat dijadikan sebagai Sunnah. Terlebih lagi riwayat ’Umar dan putranya disini tidak shahih. Adapun dari ’Umar رضي الله عنه, Al-Baihaqi meriwayatkannya dengan sanad yang Dha’if (lemah). Sedangkan riwayat dari putranya, belum aku dapatkan sekarang.”

· Apabila seorang imam lupa tidak melakukan takbir tambahan dan langsung mulai membaca Surat Al-Fatihah, maka takbir itu menjadi gugur, karena takbir tersebut termasuk amalan sunnah dan shalatnya tidak batal dengan meninggalkannya. Berkata Syaikh ’Ali bin Hasan bin ’Ali Al-Halabi Al-Atsari حَفِظَهُ اللهُ;

”Takbir (Shalat ’Ied) hukumnya sunnah, tidak batal shalat dengan meninggalkannya secara sengaja atau karena lupa tanpa ada perselisihan. Namun orang yang meninggalkannya -tanpa diragukan lagi- berarti menyelisihi Sunnah ﷺ.”

· Tidak ada dzikir/doa tertentu yang diucapkan diantara takbir-takbir dalam Shalat ‘Ied. Berkata Ibnul Qayyim رحمه الله;

”(Nabi ﷺ) diam sejenak diantara 2(dua) takbir, dan tidak dihapal dari beliau dzikir tertentu yang dibaca diantara takbir-takbir tersebut.”

· Tidak ada shalat sunnah sebelum dan sesudah Shalat ‘Ied. Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما ia berkata;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْعِيدِ رَكْعَتَيْنِ, لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلَا بَعْدَهَا.

“Nabi a Shalat ‘Ied 2 (dua) raka’at. Beliau tidak melakukan shalat sebelum dan sesudahnya.”

(Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari : 964, Muslim : 884)

· Apabila Hari ’Ied bertepatan dengan Hari Jum’at, maka kewajiban Shalat Jum’at menjadi gugur bagi orang-orang yang mengikuti Shalat ’Ied. Dan sebagai gantinya hendaklah ia mengerjakan Shalat Zhuhur. Sedangkan bagi imam dan orang-orang yang tidak mengikuti Shalat ‘Ied, harus tetap melaksanakan Shalat Jum’at. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Rasulullah ﷺ sesungguhnya beliau bersabda;

قَدِ اجْتَمَعَ فِيْ يَوْمِكُمْ هَذَا عِيْدَانِ : فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ، وَإِنَّا مُجَمِّعُوْنَ.

”Sungguh telah berkumpul 2(dua) Hari Raya pada hari kalian ini. Barangsiapa yang ingin (mengerjakan Shalat ’Ied), berarti ia telah mencukupinya dari Shalat Jum’at. Dan sesungguhnya kami akan mengumpulkannya.” (HR. Abu Dawud : 1073, lafazh ini miliknya dan Ibnu Majah : 1311. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Dari ’Atha’ bin Abi Rabah رحمه الله ia berkata;

صَلَّى بِنَا ابْنُ الزُّبَيْرِ فِيْ يَوْمِ عِيْدٍ فِيْ يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوَّلُ النَّهَارِ، ثُمَّ رَحَنَا إِلَى الْجُمُعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْنَا، فَصَلَّيْنَا وَحْدَانَا، وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ بِالطَّائِفِ، فَلَمَّا قَدِمَ ذَكَرْنَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ : أَصَابَ السُّنَّةِ.

”Ibnu Zubair رضي الله عنهما pernah mengerjakan shalat bersama kami di Hari ’Ied yang jatuh bertepatan dengan Hari Jum’at diawal siang. Kemudian kami pergi untuk menunaikan Shalat Jum’at, namun ia (Ibnu Zubair رضي الله عنهما) tidak keluar kepada kami, sehingga kami shalat sendiri-sendiri. Dan saat itu Ibnu ’Abbas رضي الله عنهما sedang berada di Thaif. Ketika beliau datang, kami menceritakan hal itu kepadanya, maka beliau berkata, ”Dia (Ibnu Zubair رضي الله عنهما) telah sesuai Sunnah,”

(HR. Abu Dawud : 1071)

· Apabila seorang tertinggal Shalat ’Ied, maka hendaklah ia mengerjakan shalat 2(dua) raka’at seperti shalatnya imam. Dari ’Uba’idullah bin Abu Bakar bin Anas bin Malik pembantu Rasulullah ﷺ ia berkata;

”Apabila Anas رضي الله عنه (kakekku) tertinggal Shalat ’Ied bersama Imam, maka ia biasa mengumpulkan keluarganya dan mengerjakan shalat bersama mereka seperti shalatnya imam pada (Shalat) ’Ied.”

(HR. Baihaqi)

Ibnul Mundir رحمه الله berkata;

”Barangsiapa yang tertinggal Shalat ’Ied, maka shalatlah 2 (dua) raka’at seperti shalatnya imam,”

Dan Imam Bukhari رحمه الله dalam Kitab Shahihnya di Juz yang pertama membuat satu bab berjudul;

بَابٌ إِذَا فَاتَهُ الْعِيْدِ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ

“Bab : Apabila seseorang tertinggal dari Shalat ‘Ied, hendaklah ia shalat 2 (dua) raka’at.”

· Tidak disyari’atkan Shalat ‘Ied bagi seorang yang sedang diperjalanan. Sebab tidak pernah ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi ﷺ dalam banyaknya perjalanan yang beliau lakukan, mengerjakan atau menyuruh mengerjakan Shalat ‘Ied diperjalanan. Dan inilah yang menjadi pendapat Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad.

KHUTBAH ‘IED

Khutbah ‘Ied dilaksanakan setelah Shalat (‘Ied). Ibnu Umar رضي الله عنه berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ, وَعُمَرُ : يُصَلُّوْنَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ.

“Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan ‘Umar رضي الله عنهما selalu shalat 2 (dua) Hari Raya sebelum khutbah.” (HR. Bukhari Juz 1 : 963, Muslim Juz 2 : 888,

lafazh ini milik keduanya, Tirmidzi Juz 2 : 531)

Berkata Imam Tirmidzi رحمه الله dalam Sunannya;

اَلْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ صَلَاةَ الْعِيْدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ وَيُقَالُ أَنَّ أَوَّلَ مَنْ خَطَبَ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ بْنِ الْحَكَمِ.

”Yang diamalkan dalam hal (Khutbah ‘Ied) ini disisi ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi ﷺ dan selain mereka adalah Shalat 2 (dua) Hari Raya dikerjakan sebelum khutbah. Orang pertama yang berkhutbah sebelum shalat adalah Marwan bin Al-Hakam.”

Catatan :

· Khutbah ‘Ied seperti khutbah-khutbah yang lainnya, yaitu dibuka dengan pujian dan sanjungan kepada Allah ﷻ. Tidak ada 1 (satu) hadits shahihpun yang menyebutkan bahwa Khutbah ‘Ied dibuka dengan takbir. Ini adalah pendapat Syaikh Abu Malik Kamal حَفِظَهُ اللهُ.

· Khutbah ’Ied hanya dengan 1(satu) kali khutbah. Tidak dalil yang shahih bahwa khutbah ’Ied dilakukan 2 (dua) kali dengan dipisah duduk antara keduanya. Adapun hadits dari Sa’ad رضي الله عنه yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ berkhutbah dengan 2 (dua) kali khutbah dan beliau memisahkan di antara keduanya dengan duduk, derajat hadit ini adalah lemah sekali.

· Mendengarkan Khutbah ‘Ied tidaklah wajib. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari ‘Abdullah bin As-Sa’bi رضي الله عنه ia berkata;

شَهِدْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيْدَ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةُ قَالَ : إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ.

“Aku menyaksikan Shalat ‘Ied bersama Nabi ﷺ. Setelah selesai shalat beliau bersabda, “Sesungguhnya kami akan berkhutbah. Barangsiapa yang ingin duduk untuk mendengarkan khutbah, maka silakan duduk. Dan barangsiapa yang ingin pergi, silakan pergi.” (HR. Abu Dawud : 1155, lafazh ini miliknya dan

Ibnu Majah : 1290)

Berkata Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Zadul Ma’ad 1/448;

”Nabi ﷺ memberi keringanan bagi yang meghadiri Shalat ’Ied untuk duduk mendengarkan khutbah atau pergi.”

HAL-HAL YANG DISUNNAHKAN PADA WAKTU ‘IED

Hal-hal yang disunnahkan pada waktu ‘Ied, antara lain :

1. Mandi

‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه pernah ditanya tentang mandi besar, lalu ia menjawab;

يَوْمَ الجُمُعَةِ وَ يَوْمَ الْعَرَفَةَ يَوْمَ النَّحْرِ وَ يَوْمَ الْفِطْرِ.

“Ketika Hari Jum’at, Hari Arafah, Hari ‘Idul Adh-ha, dan Hari ‘Idul Fitri.” (HR. Asy-Syafi’i : 114)

Diriwayatkan dari (Imam para tabi’in) Said bin Musayyab رحمه الله ia berkata;

“Amalan Sunnah pada hari ‘Idul Fitri ada 3 (tiga), yaitu; berjalan kaki menuju tempat shalat (tanah lapang), makan sebelum berangkat, dan mandi sebelum berangkat.”

2. Mengenakan Pakaian Terbaik

Disunnahkan untuk mengenakan pakaian terbaik ketika keluar untuk melakukan Shalat ’Ied, namun bagi kaum wanita tidak boleh bersolek dengan perhiasan yang mencolok dan tidak boleh memakai wewangian. Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما ia berkata;

كَانَ يَلْبَسُ يَوْمَ الْعِيْدِ بُرْدَةُ حَمْرَاءُ

“Pernah (Rasulullah ﷺ) pada waktu Hari ‘Ied mengenakan burdah merah (bermotif).”

(HR. Ath-Thabrani. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Ash-Silsilah Ash-Shahihah Juz 3 : 1279)

Berkata Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad 1/441;

”Nabi ﷺ memakai pakaiannya yang paling bagus untuk keluar (melaksanakan shalat) pada hari ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adh-ha. Beliau memiliki perhiasan yang biasa dipakai pada 2 (dua) Hari Raya itu dan pada Hari Jum'at. Sekali waktu beliau memakai 2 (dua) burdah (kain bergaris yang diselimutkan pada badan) yang berwarna hijau, dan terkadang mengenakan burdah berwarna merah, namun bukan merah murni sebagaimana yang disangka sebagian manusia, karena jika demikian bukan disebut burdah. Tetapi yang beliau gunakan adalah kain yang ada garis-garis merah seperti kain bergaris dari Yaman.”

Catatan :

Kaum laki-laki dilarangan memakai pakaian berwarna merah murni (polos). Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin ‘Azib رضي الله عنه ia berkata;

نَهَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَيَاثِرِ الْحُمْرِ

“Nabi ﷺ melarang kami menggunakan pakaian yang dicelup dengan warna merah (murni).”

(HR. Bukhari Juz 5 : 5500)

Adapun untuk pakaian merah bergaris (Al-Khullah), maka diperbolehkan bagi laki-laki memakainya. Disebutkan oleh Syaikh Shalih Alu Bassam رحمه الله bahwa Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di رحمه الله pernah memakai pakaian Al-Khullah untuk menunjukkan kebolehan (memakai)nya. Berkata Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Hadyun Nabawi;

“Yang dimaksud ‘Al-Khullah’ disini bukan merah murni, namun merah yang ada garis-garisnya.”

Berkata Syaikh Shalih Alu Bassam رحمه الله dalam Taisirul ‘Allam;

“Yang paling baik adalah pendapat Ibnu Qayyim رحمه الله, yang menjama’ permasalahan ini, bahwa yang terlarang (hanyalah) menggunakan pakaian yang berwarna merah murni (merah polos).”

3. Makan Sebelum Keluar Untuk Melakukan Shalat ‘Ied

Dari Anas رضي الله عنه ia berkata;

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُوْ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

“Tidaklah Rasulullah ﷺ tidak keluar di pagi hari ‘Idul Fitri, melainkan makan beberapa buah kurma (terlebih dahulu).”

(HR. Bukhari Juz 1 : 910)

Berkata Imam Al-Muhallab رحمه الله;

“Hikmah makan sebelum Shalat (‘Idul Fitri) adalah agar orang tidak menyangka masih diharuskan puasa hingga dilaksankan Shalat ‘Ied, seolah-olah beliau ingin menutup jalan menuju kesana.”

Catatan :

Adapun ketika ‘Idul Adh-ha hendaknya seorang mengakhirkan makan, hingga Shalat ‘Ied dan makan dari sembelihannya. Dari Ibnu Buraidah رضي الله عنه dari ayahnya ia berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ, وَلَا يَطْعَمُ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّي.

“Bahwa Rasulullah ﷺ tidak keluar pada hari ‘Idul Fitri sampai makan dan tidak makan pada hari ‘Idul Adh-ha sampai shalat.”

(HR. Tirmidzi Juz 2 : 542, lafazh ini miliknya, Ibnu Majah : 1756. Hadits shahih menurut Ibnu Hibban)

Asy-Syaukani رحمه الله menyatakan;

”Hikmah mengakhirkan makan pada ‘Idul Adh-ha adalah karena pada hari itu disyari’atkan menyembelih kurban dan makan dari kurban tersebut, maka bagi orang yang berkurban disyari’atkan agar berbuka (makan) dengan sesuatu dari kurban tersebut. Ini (yang) dikatakan oleh Ibnu Qudamah.”

4. Keluar Menuju ke Tempat Shalat Dengan Berjalan Kaki, Jika Mampu

Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما, ia berkata;

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيْدِ مَاشِيًا، وَيَرْجِعُ مَاشِيًا.

“Rasulullah ﷺ keluar (untuk Shalat) ‘Ied berjalan kaki dan pulang juga berjalan kaki.”

(HR. Ibnu Majah : 1295. Dihasankan Oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله))

Dan perkataan ’Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه;

مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يَخْرُجَ إِلَى الْعِيْدِ مَاشِيًا.

“Termasuk Sunnah (Rasulullah ﷺ) adalah keluar menuju (Shalat) ‘Ied dengan berjalan kaki.”

(HR. Tirmidzi Juz 3 : 530. Dihasankan Oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله)

5. Menempuh Jalan yang Berbeda (Ketika Pergi dan Pulang)

Dari Jabir رضي الله عنه ia berkata;

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ الْعِيْدِ خَالَفَ الطَّرِيْقَ

“Ketika Hari ‘Ied Rasulullah ﷺ mengambil jalan yang berbeda.”

(HR. Bukhari Juz 1 : 943)

6. Bertakbir

Membaca takbir secara jahr disunnahkan pada 2 (dua) Hari Raya bagi seluruh umat Islam, baik ketika; di rumah, di pasar, di jalan, di masjid, dan sebagainya. Sedangkan bagi wanita tidak boleh membacanya dengan suara keras, jika didekatnya ada laki-laki yang bukan mahram. Allah ﷻ berfirman;

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan hendaklah engkau mencukupkan bilangannya dan hendaklah engkau mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya engkau bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 185)

Cara membaca takbir, antara lain :

1. Membaca takbir secara genap (2 kali) di awal dan genap (2 kali) di akhir;

اَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَللّٰهِ الْحَمْدُ.

2. Membaca takbir secara ganjil (3 kali) di awal dan ganjil (3 kali) di akhir;

اَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَللّٰهِ الحَمْدُ.

3. Membaca takbir secara ganjil (3 kali) di awal dan genap (2 kali) di akhir;

اَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Diperbolehkan memilih yang mana saja, tetapi hendaklah membaca dengan cara ini sekali waktu dan di waktu yang lain membaca dengan cara yang lain. Masalah ini sifatnya luas.

Catatan :

· Waktu takbir pada hari ‘Idul Fitri adalah sejak keluar menuju tanah lapang hingga shalat selesai dilaksanakan. Disebutkan dalam 1 (satu) riwayat;

كَانَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلَاةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلَاةَ قَطْعُ التَّكْبِيْرِ.

“Bahwa (Nabi ﷺ) beliau keluar pada hari ‘Idul Fitri sambil melantunkan takbir hingga beliau sampai di tempat shalat, dan hingga beliau selesai shalat. Apabila telah selesai shalat, maka selesai pula takbir.”

(HR. Ibnu Abi Syaibah, Ash-Shahihah Juz 1 : 171)

Berkata Al-Muhaddits Syaikh Al-Albani رحمه الله;

”Dalam hadits ini ada dalil disyari’atkannya melakukan takbir secara jahr (keras/bersuara) di jalanan menuju tempat shalat sebagaimana yang biasa dilakukan kaum muslimin. Meskipun banyak dari mereka mulai menganggap remeh Sunnah ini hingga hampir-hampir Sunnah ini sekedar menjadi berita”

· Waktu takbir pada hari ‘Idul Adh-ha adalah sejak Shubuh Hari ‘Arafah hingga diakhir (saat metahari terbenam) Hari Tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah). Ini adalah pendapat Jumhur ulama’ salaf dan ahli fiqih dari kalangan sahabat dan para imam. Imam Ahmad رحمه الله ditanya;

“Dengan hadits apa engkau berpendapat bahwa takbir (‘Idul Adh-ha) itu dimulai sejak fajar Hari Arafah hingga akhir Hari Tasyriq?”

Beliau menjawab;

“Dengan Ijma’; ‘Umar, ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, dan Ibnu Mas’ud o.”

(Al-Mughni 3/289. Al-Irwaa’ 3/125)

· Takbir hendaknya dilakukan dengan sendiri-sendiri, bukan dengan dipimpin oleh 1 (satu) orang. Berkata Syaikh Al-Albani رحمه الله;

“Mengeraskan takbir disini tidak disyari’atkan berkumpul atas 1(satu) suara (menyuarakan takbir secara serempak dengan dipimpin oleh seseorang) sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Demikian pula setiap dzikir yang disyari’atkan untuk mengeraskan suara ketika membacanya atau tidak disyari’atkan mengeraskan suara, maka tidak dibenarkan berkumpul atas 1(satu) suara seperti yang telah disebutkan. Hendaknya kita hati-hati dari perbuatan tersebut, dan hendaklah kita selalu meletakkan dihadapan mata kita bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad ﷺ.”

Berkata Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz رحمه الله;

“Sifat takbir yang masyru’ (yang disyari’atkan), ialah setiap muslim bertakbir dan mengeraskan suaranya sehingga orang-orang mendengarkan takbirnya, lalu merekapun mencontohnya dan ia mengingatkan mereka dengan takbir. Adapun takbir jama’i yang mubtada’ (yang bid’ah), ialah adanya sekelompok jama’ah –2 (dua) orang atau lebih banyak- mengangkat suara semuanya. Mereka memulai bersama-sama dan berakhir bersama-sama dengan 1(satu) suara serta dengan cara khusus. Amalan ini tidak mempunyai dasar serta tidak ada dalilnya. Hal seperti itu merupakan bid’ah dalam cara bertakbir. Allah tidak menurunkan dalil keterangan untuknya. Maka barangsiapa yang mengingkari cara takbir yang seperti ini, berarti dia berpihak kepada yang benar.”

Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin رحمه الله;

“Yang nampak (benar), bahwa takbir bersama-sama pada hari-hari ‘Ied tidaklah masyru’. Ajaran Sunnah dalam takbir ini, ialah setiap orang bertakbir dengan suara yang keras. Masing-masing bertakbir sendiri.”

· Hendaknya seorang muslim dan muslimah tidak menghidupkan malam ‘Iednya dengan hal-hal yang berlebihan, apalagi sampai bermaksiat kepada Allah ﷻ. Karena hadits yang menerangkan tentang keutamaan menghidupkan malam ‘Ied adalah hadits palsu. Hadits tersebut adalah;

مَنْ أَحْيَا اللَّيَالِيَ الْأَرْبَعَ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةَ لَيْلَةَ التَّرْوِيَّةِ وَلَيْلَةَ عَرَفَةَ وَلَيْلَةَ النَّحْرِ وَلَيْلَةَ الْفِطْرِ. (موضوع)

“Barangsiapa menghidupkan malam yang 4(empat), maka dia berhak masuk Surga: malam Tarwiyah, malam wuquf di Arafah, malam penyembelihan kurban, dan malam hari ‘Idul Fitri.”

(Palsu, Ash-Silsilah Adh-Dha’ifah : 522)

Juga hadits yang berbunyi;

مَنْ أَحْيَا لَيْلَةَ الْفِطْرِ وَلَيْلَةَ الْأَضْحَى لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوْتُ الْقُلُوْبُ. (موضوع)

“Barangsiapa menghidup-hidupkan malam hari ‘Idul Fitri dan hari ‘Idul Adh-ha, maka tidak akan mati hatinya pada hari ketika hati manusia umumnya mati.”

(Palsu, Ash-Silsilah Adh-Dha’ifah : 520)

· Diperbolehkan memberikan ucapan selamat Hari Raya dengan mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/446;

كَانَ أَصْحَابُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا الْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيْدِ يَقُوْلُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ.

“Para sahabat Rasulullah ﷺ apabila bertemu pada Hari ‘Ied, maka berkata sebagian mereka kepada yang lainnya, “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima (ibadah) kami dan (ibadah)mu).”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله;

”Ucapan pada Hari Raya dimana sebagian orang mengatakan kepada yang lain jika bertemu setelah Shalat ‘Ied, “Taqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima (ibadah) kami dan (ibadah) kalian) dan “Ahalallahu ‘alaika”, dan sejenisnya, ini telah diriwayatkan dari sekelompok sahabat bahwa mereka mengerjakannya. Dan para imam memberi rukhshah untuk melakukannya, seperti Imam Ahmad رحمه الله dan selainnya. Akan tetapi Imam Ahmad رحمه الله berkata, “Aku tidak pernah memulai mengucapkan selamat kepada seorangpun, namun bila ada orang yang mendahuluiku mengucapkannya, maka aku menjawabnya. Yang demikian itu karena menjawab ucapan salam hukumnya wajib. Adapun memulai ucapan selamat tidaklah diperintahkan dan tidak pula dilarang. Barangsiapa mengerjakannya, maka baginya ada contoh dan barangsiapa yang meninggalkannya baginya juga ada contoh.”

Kategori : Ilmu Islam