PUASA RAMADHAN

  • 02 Mei 2019 09:54:47
Image

PUASA RAMADHAN

Penulis: Ustadz Dr. Irfan Yuhadi, M.S.I

Para salaf dahulu sangat berharap untuk dapat memasuki bulan Ramadhan dan mengisinya dengan berbagai amalan shalih. Di antara doa yang sering mereka panjatkan ialah;

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنَا إِلَى رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لَنَا رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنَّا مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, selamatkanlah kami sampai Ramadhan. Dan selamatkan bagi kami Ramadhan itu. Serta terimalah dari kami (amal-amal kami di dalamnya)” (Ruhush Shiyam)

Sungguh binasa dan celakalah orang-orang yang telah memasuki bulan Ramadhan, tetapi setelah Ramadhan tersebut lewat ia belum mendapatkan ampunan dari Rabbnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda;

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانَ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرِ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

“Binasalah seorang yang namaku disebut disisinya, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku. Binasalah seorang yang masuk bulan Ramadhan kemudian ia lepas (dari Ramadhan) namun ia belum diampuni (dosanya). Binasalah seorang yang menemui orang tuanya pada masa tua, namun (keberadaan) orang tuanya tidak mampu memasukkannya ke dalam Surga.” (HR. Tirmidzi Juz 5 : 3545, lafazh ini miliknya dan Ahmad : 7402. Hadits ini dinilai hasan shahih oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahih At-Targhib Juz 2 : 1680)

Diantara amalan Ramadhan yang paling utama adalah puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan juga merupakan sebab seseorang mendapatkan ampunan Allah ﷻ. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan landasan iman dan berharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah berlalu akan diampuni.” (Muttafaq ’alaih. HR. Bukhari Juz 1 : 38 dan Muslim Juz 1 : 760, lafazh ini miliknya)

Hukum Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. Diriwayatkan dari Abu ’Abdirrahman ’Abdullah bin ’Umar bin Khaththab رضي الله عنهما ia berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda;

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.

”Islam didirikan diatas lima perkara, yaitu; bersaksi bahwa tidak ada Sesembahan (yang berhak disembah dengan benar) kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitullah, dan berpuasa pada bulan Ramadhan.” (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari Juz 1 : 8 dan Muslim Juz 1 : 16)

Hukum puasa Ramadhan adalah wajib atas setiap muslim laki-laki dan wanita yang sudah baligh, berakal, mampu berpuasa, mukim (tidak safar), dan suci dari haidh dan nifas bagi wanita. Allah ﷻ mewajibkan puasa atas umat ini sebagaimana Dia mewajibkannya atas umat sebelumnya. Allah ﷻ berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah : 183)

Penetapan Bulan Ramadhan

Penetapan bulan Ramadhan adalah dengan cara sebagai berikut :

1. Melihat hilal bulan Ramadhan

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;

إِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا، وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوْا، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ

“Jika kalian melihat (hilal Ramadhan), maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (hilal Syawwal) maka berbukalah. Apabila mendung menghalangi kalian, maka perkirakanlah.” (HR. Bukhari Juz 2 : 1801, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 2 : 1080)

Dan disunnahkan bagi yang melihat hilal Ramadhan atau hilal bulan yang lain untuk mengucapkan;

اَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيْمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّيْ وَرَبُّكَ اللَّهُ

”Ya Allah, munculkanlah ia kepada kami dengan keberkahan dan iman, keselamatan dan Islam, Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.” (HR. Ahmad : 1397 dan Tirmidzi Juz : 3451, lafazh ini milik keduanya)

2. Menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari

Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه ia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda;

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِيْنَ

“Berpuasalah dengan melihat hilal dan berbukalah dengan melihat hilal. Jika kalian terhalangi, maka sempurnakanlah bilangan Syaban (menjadi) tiga puluh (hari). (Muttafaq ’alaih. HR. Bukhari Juz 2 : 1810, lafazh ini miliknya dan Muslim Juz 2 : 1080)

Catatan :

· Seorang yang baru diwajibkan berpuasa di siang hari –seperti; orang gila yang baru sembuh, anak kecil yang baru menjadi baligh, orang kafir baru masuk Islam, dan lain sebagainya- maka cukup bagi mereka berniat di siang hari itu, walaupun sebelumnya mereka sudah makan atau minum dan tidak ada kewajiban untuk mengqadhapuasanya. Ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri حَفِظَهُ اللهُ.

· Apabila seorang kehilangan kesadaran di bulan Ramadhan karena pingsan, gila, atau yang semisalnya, kemudian ia sadar, maka ia tidak wajib mengganti puasa maupun shalatnya, karena taklif (kewajiban syari’at) terangkat darinya. Namun jika hilangnya kesadaran disebabkan karena perbuatannya atau keinginannya sendiri lalu ia sadar, maka ia wajib mengqadha’nya. Ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri حَفِظَهُ اللهُ.

· Apabila seorang telah berniat berpuasa, lalu ia berpuasa dan pingsan di sebagian atau seluruh siangnya, maka puasanya sah. Ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri حَفِظَهُ اللهُ.

· Mengetahui adanya hilal hanya bisa dilakukan dengan melihatnya, bukan dengan perhitungan falak (hisab), maka menetapkan keluarnya hilal dengan hisab tidak dibenarkan. Imam Ash-Shan’ani رحمه الله menjelaskan;

“Jika urusan ini bergantung kepada hisab mereka, maka yang mengetahui masuknya Ramadhan hanyalah sebagian kecil orang, padahal syari’at dasarnya adalah yang mudah diketahui oleh masyarakat umum.” (Taisirul ‘Allam)

· Melihat hilal untuk menetapkan bulan Ramadhan dapat diterima dengan persaksian seorang yang adil dan dipercaya, baik itu seorang laki-laki maupun seorang wanita. Dalil yang menjadi landasan pendapat ini adalah hadits Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما, ia berkata;

“Sekelompok orang berkumpul untuk melihat hilal, lalu aku mengabarkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa aku melihatnya. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan yang lain untuk berpuasa.” (HR. Abu Dawud : 2242, dengan sanad yang shahih)

· Adapun melihat hilal untuk menetapkan bulan Syawwal, maka penetapan tersebut tidak dapat diterima kecuali dengan persaksian 2 (dua) orang yang adil. Ini adalah pendapat Jumhur ulama’, mereka berdalil dengan sabda Rasulullah ﷺ;

فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُوْمُوْا وَأَفْطِرُوْا

Jika ada dua orang saksi yang memberikan persaksian (bahwa ada hilal), maka hendaklah kalian berpuasa dan berbuka.” (HR. Nasa’i Juz 4 : 2116, dengan sanad yang shahih)

· Barangsiapa yang melihat hilal seorang diri, dan hasilnya tidak diterima (oleh penguasa), maka ia tidak boleh berpuasa hingga manusia yang lainnya berpuasa. Begitu pula tidak boleh ia berbuka hingga manusia berbuka. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda;

اَلصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ

“Waktu puasa adalah di hari kalian semua berpuasa, waktu berbuka (‘Idul Fithri) adalah di hari kalian semua berbuka, dan Idul Adh-ha ialah hari dimana kalian berqurban.” (HR. Tirmidzi Juz 3 : 697. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani رحمه الله dalam Shahihul Jami’ : 3869)

Berkata Imam Tirmidzi رحمه الله;

وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيْثُ فَقَالَ إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعَظُمَ النَّاسِ

“Sebagian ahli ilmu menjelaskan tentang hadits ini, mereka mengatakan bahwa maksud (hadits) ini adalah berpuasa dan berbuka bersama-sama dengan jama’ah dan orang banyak.” (Sunan Tirmidzi, 3/697)

· Apabila hilal dapat dilihat pada satu negeri, maka hilal tersebut berlaku bagi negeri lain yang tempat keluar hilalnya bersamaan. Inilah pendapat yang paling tepat diantara berbagai pendapat ulama’ dan inilah pendapat yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله.

· Apabila seorang muslim berpuasa di suatu negara, lalu dia bepergian ke negara lain, maka hukum puasa dan berbukanya adalah hukum negara saat ia pindah. Ia berbuka bersama mereka jika mereka berbuka. Tetapi jika total puasanya kurang dari dua puluh sembilan hari, maka ia wajib menambah satu hari setelah ‘Idul Fitri. Seandainya ia berpuasa lebih dari tiga puluh hari, maka ia tidak berbuka, kecuali bersama mereka. Ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri حَفِظَهُ اللهُ..

· Apabila seorang tinggal di negara yang matahari tidak terbenam pada musim panas dan tidak terbit pada musim dingin atau di negara yang siangnya berlangsung selama enam bulan dan malamnya enam bulan atau lebih atau kurang, mereka shalat dan berpuasa dengan mengikuti negara terdekat dengannya yang memiliki malam dan siang dua puluh empat jam. Sehingga mereka menentukan awal puasa dan akhirnya menurut waktu negara terdekat itu. Ini adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri حَفِظَهُ اللهُ.

Kategori : Ilmu Islam